Beberapa waktu yang lalu, setelah pulang seminar aikido di Medan, saya terserang demam hebat, untuk memastikannya, doter keluarga meminta saya memeriksakan darah di laboratorium rumah sakit.
Saya datang ke rumah sakit, sebagai orang yang sakit, dan membutuhkan pelayanan. Di mata saya, penyakit saya, atau kebutuhan saya akan pemeriksaan darah adalah nomor satu, saya buda dengan keadaan di sekeliling saya. Tapi apa boleh buat, rumah sakit ada aturan, dan dana di kantong saya juga terbatas.
Saya terpaksa harus antri untuk mendaftar kan diri pada baagian pendaftaran, dan supaya berobatnya gratis (pakai askes), daftar tunggu menjadi semakin panjang lagi. Satu hari saya habiskan di rumah sakit hanya untuk mendaftar saja. Untung sebelumnya saya sudah diresepi minum air putih diatas 2 liter setiap harinya. Jadi kondisi kesehatan saya semakin membaik.
Hari ke 2, saya kembali untuk pemeriksaan darah di Laboratorium, karena merasa sudah mendaftar, saya datang ke rumah sakit kira-kira pukul sembilan. Ternyata antrian sudah kembali panjang. Mungkin karena saya ke rumah sakit dengan baju dinas kantor, tak lama kemudian saya dipanggil, mungkin mereka punya sodilaritas sesama pegawai negeri harus saling tolong menolong.
Hasil lab baru bisa diambil sore harinya, ketika tidak ada lagi dokter rumah sakit yang bisa dimintai pendapatnya tentang penyakit saya. Namun saya bersyukur, karena pada bari-baris penyakit yang berbahaya, hasil pemeriksaan saya bernilai negatif. Sungguh suatu perasaan yang akan sangat berbeda bila anda menerima laporan psikologi dengan hasil yang sama.
Saya kembali keesokan harinya, pagi-pagi ke rumah sakit, dengan semangat untuk mengdengarkan kabar baik selanjutnya (tentu tetap mengkonsumsi 2 liter air seperti biasa). Kami kembali antri di depan ruang dokter, kali ini bukan karena banyak orang yang membutuhkan pelayanan, tapi dokternya belum tiba.
Setelah menunggu hingga pukul 8.30, bersama dua orang ibu-ibu yang juga punya keperluan sama. Saya keluar untuk sarapan pagi. Ketika saya kembali, dokternya sudah ada, saya langsung saja masuk, karena tidak harus antri lagi. Tapi yang saya terima bukannya komentar dokter tentang hasil pemeriksaan lab, "Bapak harus mendaftar dulu, supaya nanti untuk obatnya tidak perlu baya" kata dokter itu.
Spontan saya menjawab "Oke, dok." Saya langsung keluar dengan kecewa. Bukan mendaftar seperti yang dimaksudkan dokter, tapi segera balik ke kantor, dan tidak lupa singgah di kantin untuk minum secukupnya.
Saya merasa hebat, karena kemudian saya sehat tampa harus mengantri lagi di depan loket pendaftaran. Saya merasa sombong.....
Tapi, kemarin, saya kembali kerumah sakit, kali ini karena ada kawan yang membutuhkan perawatan di sana. Saya kembali sebagai orang sehat, dengan pikiran yang sehat. Tapi tiba-tiba saja, saya tidak berani mengangkat wajah saya seperti sedia kala, saya malu dengan orang-orang yang menaggung berbagai macam sakit, tapi mereka tetap sabar, walau harus antri dan bolak balik antar loket dan ruangan.....
Rabu, Desember 29, 2010
Selasa, Desember 21, 2010
Mengenal Sensei
Sensei adalah ungkapan kehormatan yang kira-kira semakna dengan guru. Seseorang menjadi Sensei atau Guru karena memiliki beberapa kualitas, antara lain lebih tua, lebih banyak tahu, lebih berpengalaman, dan yang terpenting adalah bisa memberi contoh dan mentransfer ilmunya kepada orang lain.
Dalam salah satu tugas kedinasan di Bandung, saya berkesempatan berjumpa dengan Sensei Ganamurti, Guru Besar Aikido di IAI (Institut Aikido Indonesia). Sebagai salah seorang aikidoka pemula, saya tentu merasa beruntung sekali.
Awalnya saya merasa kikuk ketika memberitahukan rencana saya untuk menemui beliau, tapi dengan santai beliau meminta saya untuk menanti di Bandung, tidak mesti ke Jakarta. Wah, sensei Gana tidak sok wibawa rupanya.
Jum'at malam, 17 Desember, beliau mengunjungi saya di Hotel Horison Bandung, tempat di mana saya sedang mengikuti pelatihan kedinasan. Penampilannya biasa-biasa saja, masak sih ini seorang sensei Aikido yang bahkan disegani oleh orang Jepang.... pikir saya.
Kami duduk di lobi hotel dan saling memperkenalkan diri, lalu dilanjutkan dengan obrolan yang sepertinya mengalir begitu saja, seakan-akan kami telah mengenal begitu lama, tidak ada jarak antara saya dengan Sensei, kecuali tentu umur dan pengetahuannya.
Pertemuan kami terhenti karena beliau meminta saya kembali mengikuti kegiatan sesuai dengan schedule yang telah ditetapkan. Beliau tidak mau kehadirannya mengganggu aktivitas saya. Kami berjanji bertemu kembali esok hari, sabtu.
Malam itu kegiatan kami selesai, sehingga keesokan harinya, kami leluasa untuk 'menjelajahi' kota Bandung, yang menurut sensei Gana, adalah kota kelahiran dan tempat beliau tumbuh besar. Tapi saya sudah 30 tahun tidak mengunjungi kota ini, kata sensei.
Kami ditemani oleh teman kecil sensei ketika SMP, Pak Yuyun, demikian nama panggilan yang digunakan sensei untuk teman akrabnya ini. Meskipun mereka sudah sama-sama berumur, tapi lagaknya masih seperti anak muda saja, kompak, setia, humoris, dan yang paling penting, mereka tidak menganggap saya sebagai 'anak kecil,' saya merasa berada di antara keluarga saya sendiri.
Dari Horison, pertemuan sederhana ini berubah menjadi diskusi yang serius tentang berbagai hal, yaitu tentang belajar makana hidup yang lebih luas dari aikido sendiri. Diskusi kami terpaksa diakhiri di jl. Ciampelas, karena pak Yuyun kurang sehat, hari juga telah menjelang magrib, dan saya juga belum sempat berbelanja oleh-oleh untuk kawan-kawan di Kantor.
Setibanya di Jakarta, dengan mempergunakan KA Argo-Parahiyangan, saya memulai tidur saya dengan sebuah renungan. Ternyata, seorang sensei tidak pernah berhenti belajar......
Karena tidak memperoleh tiket untuk segera kembali ke Banda Aceh, maka saya 'terpaksa' menginap beberapa hari di Jakarta. Kesempatan ini saya manfaatkan untuk mengena
Wah, ada banyak sekali ilmu yang saya peroleh dari pengalaman hidup beliau yang sangat 'kaya' sekali, mudah-mudahan saja, saya tidak melupakan semuanya, dan pada suatu saat juga bisa menjadi seorang 'Sensei' seperti Pak Gana, terima kasih, pak!
Minggu, November 21, 2010
Setelah Takbir Tak Bergema Lagi
Mendung masih menggantung di atas langit, begitu rapi sehingga sulit membedakan waktu tanpa bantuan jam dinding masjid yang berdenting setiap 60 menit. Hari itu, hari minggu, kira-kira pukul 9 pagi, tapi suasananya masih seperti subuh hari. Mendung masih menggantung di atas langit.
Amin, sang penjaga majid, duduk termenung di tangga masjid. Sepi sendiri. Bukan hanya karena masjid lagi sunyi di luar waktu shalat, tapi memang ada semacam keheningan yang menyergap Amin, sang penjaga masjid.
Amin adalah anak yatim piatu yang ditinggal orang tak dikenal di depan gerbang masjid, 20 tahun yang lalu. Ia dipungut dan diasuh oleh penjaga mesjid sebelumnya, Pak Sabar. Kebetulan Pak Sabar tidak memiliki anak, karena ia tidak pernah kawin, tidak ada yang mau menikahkan anaknya dengan Sabar yang cacat, tidak mampu bicara dengan lancar, matanya juga juling.
Tapi, Amin tumbuh dengan sehat, tidak kurang suatu apa, kecuali pengetahuan tentang orang tuanya, dia anak siapa. Amin memang tidak bersekolah, tapi dia bisa tulis baca. Suaranya indah, menggema setiap kali azan menandakan waktu shalat 5 kali sehari semalam. Amin, orang yang terpercaya, merawat Pak Sabar dengan penuh kasih sayang, hingga, ketika Pak Sabar telah tiada, Amin masih tetap setia menunggui masjid, Istiqamah namanya.
Amin tidak begitu terpelajar, sehingga dia bingung, kenapa pada hari Raya Idul Fitri semua orang bergembira, petasan dan takbir menggema sepanjang malam, dan senyap keesokan harinya. Tapi semua orang tetap bergembira. Amin tidak mengerti, karena tidak ada orang yang memberitahunya, tidak ada yang menyapanya di luar hari raya.
Amin tambah bingung, ketika Idul Adha tiba, semua orang kelihatan susah wajahnya, dan takbirpun dilantunkan dengan seadanya. Orang-orang tampak terpaksa ketika melantunkan takbir di hari kedua, ketiga, dan keempat hari raya.
Tiba-tiba saja keheningan menyerang si Amin, ketika shalat magrib berakhir, dan imam tidak memimpin takbir, padahal si Amin sudah terbiasa. Ditunggunya waktu isya, tap takbir tak juga dikumandangkan lagi, hingga subuk esok pagi.
Amin termenung sendiri di tangga masjid Istiqamah, yang menghitam seiring perjalanan waktu. Masjid ini benar-benar sunyi, tidak hanya pada hari minggu ini, tapi juga pada hari-hari lainnya, selain jum’at dan hari raya.
Tiba-tiba saja angin bertiup kencang, dan bau amis darah sisa kurban kembali tercium oleh Amin, padahal dia sudah mengubur sisa penyembelihan itu dalam-dalam. Tapi baunya masih terasa juga menusuk hidung Amin.
Amin tidak mendapat jatah daging kurban tahun ini, meskipun hewan-hewan itu disembelih di perkarangan masjid ini. Karena Amin dianggap orang kaya, tidak memiliki tanggungan, tidak memiliki utang. Amin hanya hidup sendiri, dan dia sudah cukup bahagia menjaga masjid ini, meneruskan tradisi Pak Sabar, ayah angkatnya.
Amin bangkit menuju tempat wudhuk, sebuah bak air tua, setua Pak Sabar dan Masjid Istiqamah. Amin membasuh muka dan tangannya, menyapu kepalanya, membasuh kakinya. Lalu menghadap ke Mekkah, Ya Allah, aku rindu suara takbir itu…
Amin melangkah ke ruang mihrab, membunyikan mikrofon, lalu dengan lantang bertakbir. Allaahuakabar….Allaahuakbar….Allaahuakbar….. Laailaahaillallahuwallaahuakbar…. Allaahuakbar…walillaahilhamd….
Allaahuakbar…..
Allaahuakbar…..
Dan kesunyian yang mendera Aminpun terusir dengan sendirinya, perlahan dia mendengar, takbirnya mulai mendapat jawaban, dia tidak lagi bertakbir sendiri, makin lama suara takbir itu makin gemuruh, memenuhi dada Amin, memenuhi Masjid Istiqamah, bahkan dari halaman dan jalan-jalan juga terdengar suara gemuruh.
Amin sangat bahagia, tiba-tiba saja dia merasa gembira, kegembiraan yang luar biasa. Amin tersenyum, tersenyum lebar karena bahagia. Amin bertakbir lagi…. Terdengar sahutan takbir. Amin bertakbir lebih keras lagi…. Terdengar lagi sahutan. Amin bertakbir lebih keras lagi, Amin merasa lebih bahagia, dadanya mengembang….. Amin bahagia…….
***
Di sudut halaman Masjid Istiqamah, kini terdapat dua gundukan tanah kecil, yang satu makam Pak Sabar, penjaga masjid yang lama. Dan satunya lagi makam si Amin, yang baru meninggal pada hari rabu kemarin.
Amin ditemukan rebah di depan mihrab mesjid, oleh orang-orang yang terusik dengan suara takbirnya yang tidak tepat waktu. Mereka berbondong-bondong menuju mesjid untuk melihat siapa yang berani berbuat bid’ah dan lancang di masjid ini. Tapi mereka hanya menemukan tubuh si Amin yang tidak bernyawa lagi. Mereka merasa kesal, karena mereka telah diakali oleh si Amin yang telah mati.
Hari senin, di papan pengumuman masjid, juga di depan gerbangnya, tertempel papan pengumuman : DICARI PENJAGA MASJID YANG BARU DENGAN SYARAT BERSUARA MERDU, RAJIN BEKERJA, BELUM BERKELUARGA, TIDAK GILA, DAN BERSEDIA MENGIKUTI FIT DAN PROPER TEST OLEH PANITIA SELEKSI. TTD, PANITIA MASJID ISTIQAMAH.
***
Tiga bulan berselang, papan pengumuman di depan gerbang masjid telah jatuh ke tanah yang becek. Mendung masih juga menggantung di langit.
Sebuah mobil MPV mewah berhenti di depan gerbang Masjid Istiqamah. Dua orang turun dari mobil dengan penampilan yang berbeda. Yang satu dengan setelan jas abu-abu, kacamata hitam, dan berambut tipis yang disisir rapi ke belakang. Yang satunya, berjas biru dengan kain sarung, surban tebal dan peci hitam.
Jas Abu-abu : Pak Ustadz, ini benar-benar lokasi yang sangat strategis untuk pengembangan bisnis dan usaha. Saya berencana membangun gedung mewah dua puluh tingkat, lengkap dengan Mall, perkantoran dan tempat tinggal mewah. Berapa harga jadinya, Pak Ustadz?
Jas Biru : oh Pak Mister terlalu melebih-lebihkan, dari dulu masjid itu letaknya memang selalu strategis. Hanya karena zaman telah berubah, tempat ini menjadi sepi. Orang-orang melaporkan kalo setiap malam nampak 2 orang hantu yang bergentayangan di tempat ini.
Jas Abu-abu : Tidak masalah itu Pak Ustadz. Saya jamin tempat ini akan kembali ramai, bahkan lebih ramai dari sebelumnya, kalo perlu, orang-orang yang ada disini tidak akan pernah tidur siang malam sampai mati. Hantu-hantu itu juga akan hilang dengan sendirinya. Jadi berapa nilai yang saya bayar untuk tempat ini?
Jas Biru : Terimakasih Pak Mister atas perhatiannya. Harganya tidak terlalu mahal, tapi saya punya satu syarat Pak Mister, mudah-mudahan anda tidak keberatan?
Jas Abu-abu : Tidak masalah Pak Ustadz, saya terkenal sebagai orang yang murah hati, saya kira sayarat kecil anda itu tidak akan membatalkan kesepakatan ini, bukan?
Jas Biru : Saya yakin dengan anda, Pak Mister. Syaratnya sederhana saja, saya ingin gedung itu tidak hanya 20 lantai, tapi 21 lantai. Lantai teratas menjadi masjid yang indah dengan kubah mungil menjulang ke angkasa. Itu saja Pak Mister.
Jas Abu-abu : Oh.. Pak Ustadz, itu tidak masalah sama sekali, bahkan saya akan membuat desainnya seislami mungkin. Sehingga orang orang akan mengira ini bangunan di timur tengah. Berapa saya harus bayar Pak Usdaz?
Jas Biru : 44 milyar rupiah, Pak Mister!
Jas Abu-abu : Oke, deal kalo begitu.
Mereka naik kembali ke mobil MPV mewah, meluncur meninggalkan cipratan lumpur ke papan pengumuman.
***
1,5 tahun kemudian, di tempat Masjid Istiqamah dulu berada, kini berdiri sebuah bangunan mewah berlantai 21, dengan puncak kubah menjulang angkasa. Ada grafiti dengan tulisan AKBAR TOWER.
Banda Aceh, 21 Nopember 2010
Amin, sang penjaga majid, duduk termenung di tangga masjid. Sepi sendiri. Bukan hanya karena masjid lagi sunyi di luar waktu shalat, tapi memang ada semacam keheningan yang menyergap Amin, sang penjaga masjid.
Amin adalah anak yatim piatu yang ditinggal orang tak dikenal di depan gerbang masjid, 20 tahun yang lalu. Ia dipungut dan diasuh oleh penjaga mesjid sebelumnya, Pak Sabar. Kebetulan Pak Sabar tidak memiliki anak, karena ia tidak pernah kawin, tidak ada yang mau menikahkan anaknya dengan Sabar yang cacat, tidak mampu bicara dengan lancar, matanya juga juling.
Tapi, Amin tumbuh dengan sehat, tidak kurang suatu apa, kecuali pengetahuan tentang orang tuanya, dia anak siapa. Amin memang tidak bersekolah, tapi dia bisa tulis baca. Suaranya indah, menggema setiap kali azan menandakan waktu shalat 5 kali sehari semalam. Amin, orang yang terpercaya, merawat Pak Sabar dengan penuh kasih sayang, hingga, ketika Pak Sabar telah tiada, Amin masih tetap setia menunggui masjid, Istiqamah namanya.
Amin tidak begitu terpelajar, sehingga dia bingung, kenapa pada hari Raya Idul Fitri semua orang bergembira, petasan dan takbir menggema sepanjang malam, dan senyap keesokan harinya. Tapi semua orang tetap bergembira. Amin tidak mengerti, karena tidak ada orang yang memberitahunya, tidak ada yang menyapanya di luar hari raya.
Amin tambah bingung, ketika Idul Adha tiba, semua orang kelihatan susah wajahnya, dan takbirpun dilantunkan dengan seadanya. Orang-orang tampak terpaksa ketika melantunkan takbir di hari kedua, ketiga, dan keempat hari raya.
Tiba-tiba saja keheningan menyerang si Amin, ketika shalat magrib berakhir, dan imam tidak memimpin takbir, padahal si Amin sudah terbiasa. Ditunggunya waktu isya, tap takbir tak juga dikumandangkan lagi, hingga subuk esok pagi.
Amin termenung sendiri di tangga masjid Istiqamah, yang menghitam seiring perjalanan waktu. Masjid ini benar-benar sunyi, tidak hanya pada hari minggu ini, tapi juga pada hari-hari lainnya, selain jum’at dan hari raya.
Tiba-tiba saja angin bertiup kencang, dan bau amis darah sisa kurban kembali tercium oleh Amin, padahal dia sudah mengubur sisa penyembelihan itu dalam-dalam. Tapi baunya masih terasa juga menusuk hidung Amin.
Amin tidak mendapat jatah daging kurban tahun ini, meskipun hewan-hewan itu disembelih di perkarangan masjid ini. Karena Amin dianggap orang kaya, tidak memiliki tanggungan, tidak memiliki utang. Amin hanya hidup sendiri, dan dia sudah cukup bahagia menjaga masjid ini, meneruskan tradisi Pak Sabar, ayah angkatnya.
Amin bangkit menuju tempat wudhuk, sebuah bak air tua, setua Pak Sabar dan Masjid Istiqamah. Amin membasuh muka dan tangannya, menyapu kepalanya, membasuh kakinya. Lalu menghadap ke Mekkah, Ya Allah, aku rindu suara takbir itu…
Amin melangkah ke ruang mihrab, membunyikan mikrofon, lalu dengan lantang bertakbir. Allaahuakabar….Allaahuakbar….Allaahuakbar….. Laailaahaillallahuwallaahuakbar…. Allaahuakbar…walillaahilhamd….
Allaahuakbar…..
Allaahuakbar…..
Dan kesunyian yang mendera Aminpun terusir dengan sendirinya, perlahan dia mendengar, takbirnya mulai mendapat jawaban, dia tidak lagi bertakbir sendiri, makin lama suara takbir itu makin gemuruh, memenuhi dada Amin, memenuhi Masjid Istiqamah, bahkan dari halaman dan jalan-jalan juga terdengar suara gemuruh.
Amin sangat bahagia, tiba-tiba saja dia merasa gembira, kegembiraan yang luar biasa. Amin tersenyum, tersenyum lebar karena bahagia. Amin bertakbir lagi…. Terdengar sahutan takbir. Amin bertakbir lebih keras lagi…. Terdengar lagi sahutan. Amin bertakbir lebih keras lagi, Amin merasa lebih bahagia, dadanya mengembang….. Amin bahagia…….
***
Di sudut halaman Masjid Istiqamah, kini terdapat dua gundukan tanah kecil, yang satu makam Pak Sabar, penjaga masjid yang lama. Dan satunya lagi makam si Amin, yang baru meninggal pada hari rabu kemarin.
Amin ditemukan rebah di depan mihrab mesjid, oleh orang-orang yang terusik dengan suara takbirnya yang tidak tepat waktu. Mereka berbondong-bondong menuju mesjid untuk melihat siapa yang berani berbuat bid’ah dan lancang di masjid ini. Tapi mereka hanya menemukan tubuh si Amin yang tidak bernyawa lagi. Mereka merasa kesal, karena mereka telah diakali oleh si Amin yang telah mati.
Hari senin, di papan pengumuman masjid, juga di depan gerbangnya, tertempel papan pengumuman : DICARI PENJAGA MASJID YANG BARU DENGAN SYARAT BERSUARA MERDU, RAJIN BEKERJA, BELUM BERKELUARGA, TIDAK GILA, DAN BERSEDIA MENGIKUTI FIT DAN PROPER TEST OLEH PANITIA SELEKSI. TTD, PANITIA MASJID ISTIQAMAH.
***
Tiga bulan berselang, papan pengumuman di depan gerbang masjid telah jatuh ke tanah yang becek. Mendung masih juga menggantung di langit.
Sebuah mobil MPV mewah berhenti di depan gerbang Masjid Istiqamah. Dua orang turun dari mobil dengan penampilan yang berbeda. Yang satu dengan setelan jas abu-abu, kacamata hitam, dan berambut tipis yang disisir rapi ke belakang. Yang satunya, berjas biru dengan kain sarung, surban tebal dan peci hitam.
Jas Abu-abu : Pak Ustadz, ini benar-benar lokasi yang sangat strategis untuk pengembangan bisnis dan usaha. Saya berencana membangun gedung mewah dua puluh tingkat, lengkap dengan Mall, perkantoran dan tempat tinggal mewah. Berapa harga jadinya, Pak Ustadz?
Jas Biru : oh Pak Mister terlalu melebih-lebihkan, dari dulu masjid itu letaknya memang selalu strategis. Hanya karena zaman telah berubah, tempat ini menjadi sepi. Orang-orang melaporkan kalo setiap malam nampak 2 orang hantu yang bergentayangan di tempat ini.
Jas Abu-abu : Tidak masalah itu Pak Ustadz. Saya jamin tempat ini akan kembali ramai, bahkan lebih ramai dari sebelumnya, kalo perlu, orang-orang yang ada disini tidak akan pernah tidur siang malam sampai mati. Hantu-hantu itu juga akan hilang dengan sendirinya. Jadi berapa nilai yang saya bayar untuk tempat ini?
Jas Biru : Terimakasih Pak Mister atas perhatiannya. Harganya tidak terlalu mahal, tapi saya punya satu syarat Pak Mister, mudah-mudahan anda tidak keberatan?
Jas Abu-abu : Tidak masalah Pak Ustadz, saya terkenal sebagai orang yang murah hati, saya kira sayarat kecil anda itu tidak akan membatalkan kesepakatan ini, bukan?
Jas Biru : Saya yakin dengan anda, Pak Mister. Syaratnya sederhana saja, saya ingin gedung itu tidak hanya 20 lantai, tapi 21 lantai. Lantai teratas menjadi masjid yang indah dengan kubah mungil menjulang ke angkasa. Itu saja Pak Mister.
Jas Abu-abu : Oh.. Pak Ustadz, itu tidak masalah sama sekali, bahkan saya akan membuat desainnya seislami mungkin. Sehingga orang orang akan mengira ini bangunan di timur tengah. Berapa saya harus bayar Pak Usdaz?
Jas Biru : 44 milyar rupiah, Pak Mister!
Jas Abu-abu : Oke, deal kalo begitu.
Mereka naik kembali ke mobil MPV mewah, meluncur meninggalkan cipratan lumpur ke papan pengumuman.
***
1,5 tahun kemudian, di tempat Masjid Istiqamah dulu berada, kini berdiri sebuah bangunan mewah berlantai 21, dengan puncak kubah menjulang angkasa. Ada grafiti dengan tulisan AKBAR TOWER.
Banda Aceh, 21 Nopember 2010
Langganan:
Postingan (Atom)