Sabtu, Maret 15, 2025

Waitankung Sebagai Amal Jariyah

Sudah lama tidak menulis di blog ini, ya karena malas, lupa juga berbagai kesibukan lainnya. Namun kali ini saya merasa perlu berbagi melalui tulisan ini, sesuatu yang saya rasa penting bagi saya, bagi semua orang juga tentunya.

Kebetulan ketika browsing perihal terapi kesehatan aternatif, saya menemukan satu kata yang menarik di Online Shope, yaitu Waitankung, muncul sebagai produk buku bekas tentang senam kesehatan. Karena penasaran, saya mencari informasinya di internet.

Ternyata, waitankung ini adalah semacam senam atau olah raga kesehatan yang terdiri dari 12 gerakan fisik plus pernafasannya, diperkenalkan kembali oleh salah seroang praktisi belediri, danguru olahraga di Taiwan. Beliau adalah Master Chang Chih Tung (bisa dibaca juga Zhang Zhitong), seorang muslim cina, dan setelah naik haji, juga menambah namanya menjadi Haji Ali Chang Chih Tung.

Beliau seorang muslim yang taat, dan tidak menikah sampai wafatnya. Cerita beliau sangat menarik sehingga saya terinspirasi untuk mencari tau lebih banyak tentang Waitankung, dan berniat membagikannya sebagai perpanjangan tangan bagi beliau dalam menyebarkan manfaat dari Waitankung sebagai salah satu amal jariyah beliau, yang pahalanya terus mengalir meski beliau telah meninggal. Kuburan beliau ada di pemakaman muslim Kota Taichung, Taiwan.

Kisah beliau dalam bahasa Indonesia, yang merupakan saduran dari reportase Majlah Tempo Tahun 1987, dapat di simak di alamat berikut : https://senamsehatindonesia.blogspot.com/2017/05/sejarah-senam-wai-tan-kung.html

Di blog tersebut juga tersedia panduan latihan Waitankung, yang karena popularitasnya pada tahun 1980-an telah diganti namanya menjadi Senam Sehat Indonesia. 

Informasi tentang Masteng Haji Ali Chang Chih Tung memang sangat terbatas di internet, khususnya yang berbahasa Indoensia dan dan Inggris. Ketika kita mencari kata kunci "Chang Chih Tung" atau "Zhang Zhitong," maka informasi yang muncul adalah tentang salah seorang cendikiawan Cina di masa akhir Dinasti Qin, yang namnya sama. Boleh jadi ini adalah salah seorang leluhur Master Haji Ali Chang Chih Tung, yang sebagaimana pegakuan beliau, bahwa leluhurnya semua beragama Islam.

Informasi tetang Master Haji Ali dan Waitankung sepertinya lebih banyak tersedia dalam website berbahasa cina yang berbasis di Taiwan. Jadi, untuk mebacanya membutuhkan bantuan dari traslator yang kini sudah mudah digunakan di berbagai aplikasi browser.

Alfatihah untuk Master Haji Ali Chang Chih Tung, yang wafat pada 14 Maret 1997. Semoga mendapatkan pahala yang baik di sisi Allah, dikumpulkan bersama para pendahulunya yang shaleh, dan keberkahan serta manfaat ilmunya selalu mengalir hingga akhir zaman. 

Dari hasil browsing ini, saya mengumpulkan sejumlah materi Waitankung yang mungkin bermanfaat bagi para meminat, baik untuk mencoba berlatih atau sekedar ingin tahu saja. Materi-materi tersebut dalam bentuk File PDF, sebagian berbahasa Indonesia (hasil scan buku-buku lawas), juga berbahasa Inggris dan Cina. Berikut link materinya : Download PDF Waitankung

Berikut beberapa foto Master Haji Ali Chang Chih Tung

1. Ini adalah foto Leluhur Chang Chih Tung (1837-1909), seorang cendikiawan cina Dinasti Qin, yang muncul bila kita mecari info tetang Chang Chih Tung (Zhang Zhitong) di internet.

(sumber : China Chang Chih Tung Chinese Grand - auctions & price archive)

2. Foto Master Haji Ali Chang Chih Tung yang populer

(Sumber : SENAM WAITANKUNG (Bag-1) - BLOG NINIEK SS桃園市中華外內丹功運動協會)

3. Makam Master Haji Ali Chang Chih Tung di Kota Taichung, Taiwan (Foto Nisan)

(Sumber : 03.bmp (794×1187))

4. Monumen Peringatan di Makam Master Haji Ali

(sumber : 02.bmp (1193×794))

5. Prasasti Penghargaan Pemerintah Taiwan atas Jasa dan Kontribusi Master Haji Ali Chang Chih Tung sebagai Pelatih, Guru dan Pendidik (di bagian bawah Monumen)

(Sumber : 07.bmp (1173×787))

6. Kegiatan Ziarah dan Doa di Makam Master Haji Ali di Pemakaman Muslim Kota Taichung, Taiwan


(Sumber : Kegiatan peringatan Tuan Zhang Zhitong --- 張志通大師歸真追思活動)

7. Kumpulan Foto Kunjungan Master Haji Ali Chang Chih Tung ke Indonesia Tahun 1994, yaitu antara 9 sd 16 Juli 1994 (dalam video tanpak Beliau sudah kurusan, tidak lagi gemuk seperti foto di atas)

(sumber : 世界丹功宗師張志通大師出訪印尼紀念影片1994/7/9~16)

Demikian, semoga bermanfat, amin.





Jumat, Juni 16, 2017

Hadis Nomor 27 dari Kitab Arbain Imam Nawawi



Apakah seseorang bisa membedakan kebaikan dan dosa? Semestinya manusia telah dibekali oleh Allah dengan kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buru. Salah satu instrumen untuk itu adalah akal. Akal identik dengan kecerdasan logika, analisa dan luasnya informasi yang dimiliki. Orang yang berakal identik dengan orang pintar atau berilmu.

Akan tetapi, adakalanya keluasan ilmu juga tidak bisa menyelamatkan manusia dari jebakan dosa. Pada saat itu, manusia perlu kepada kecerdasan nuraninya, yang identik dengan qalbu, hati.

Dalam hadis ke 27, dapat kita lihat jawaban Rasulullah kepada sahabat An-Nawas bin Sam’ani :

الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ، وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِك، وَكَرِهْت أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

Kebaikan tercermin dari akhlak yang baik, dosa apa yang menyesakkan dadamu, dan kau khawatirkan diketahui oleh orang lain.

Dalam riwayat yang lain, Sahabat Wabishah bin Ma’ad mendatangi Rasulullah untuk bertanya tentang apa itu kebaikan, maka Raulullah menerangkan :

استفت قلبك، الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إلَيْهِ النَّفْسُ، وَاطْمَأَنَّ إلَيْهِ الْقَلْبُ، وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ، وَإِنْ أَفْتَاك النَّاسُ وَأَفْتَوْك

Mintalah fatwa kepada hatimu, kebaikan adalah yang membuat jiwa menjadi tenang dan hati menjadi tentram. Sementara dosa adalah yang meresahkan jiwa dan menyesakkan dada, meskipun kamu sudah bertanya kepada orang lain.

Pada dasarnya, jiwa dan hati manusia itu baik, dan bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, bahwa kondisi jiwa dan hati itu sehat/bersih, dan kita terbiasa untuk tidak mengabaikan alarm yang diberikan oleh hati kita.

Para sahabat rasul adalah orang-orang memelihara dan menjaga kebersihan hati dan jiwanya, sehingga mereka bisa langsung mempedomani fatwa dari hatinya. Namun bagi kita yang awam, perlu membiasakan diri untuk membersihkan hati dengan ibadah, berprasangka baik, berzikir, dan mendengarkan nasehat dari para ulama. Dengan demikian, mudah-mudahan kita bisa bebas dari jebakan nafsu dan syahwat kita, yang kita kira sebagai hati nurani kita.

Namun, secara sederhana, dari hadis di atas, Rasulullah menjelaskan dua kriteria yang harus dipenuhi untuk menyatakan sesuatu itu baik, yaitu jiwa tentram dan hati juga tenang. Bila jiwa tentram tapi hati gelisah, berarti itu nafsu. Bila hati yakin namun jiwa melawan, kemungkinan kita sedang melawan hawa nafsu dalam melakukan amal shaleh. Kita masih harus terus berlatih mengendalikannya.

Jika sesuatu itu menyesakkan di dada, meresahkan jiwa, meskipun sudah bertanya kepada orang lain yang lebih mengerti, berarti ada sesuatu yang salah dengan diri kita, bisa jadi niat kita salah jika lahiriah perbuatannya baik, atau memang sebuah kesalahan, namun samar pada pandangan orang lain.

Jika kita mengalami ini, bersyukurlah bahwa hati kita masih hidup, alarm yang Allah titip pada diri kita masih berfungsi. Mari kita jaga dan rawat, karena bila hati telah mati, tidak ada beda lagi banginya apakah sesuatu itu baik atau berdosa.

Wallahu a’lam.

Selasa, Juni 13, 2017

Hadis Nomor 28 dari Kitab Arbain Imam Nawawi



Gejolak akhir zaman, telah diwanti-wanti oleh Rasulullah sejak dahulu kepada para sahabatnya. Barang siapa yang berumur panjang, akan melihat perbedaan-perbedaan yang memecahbelah umat islam. Pada hadis nomor urut ke 28, diriwayatkan oleh salah seorang sahabat, Abu Najih al-Irbadh bin Sariyah yang berkata :

Suatu ketika Rasulullah memberi kami pelajaran yang membuat hati bergetar dan mata menjadi sendu, maka kami berkata kepada Rasulullah : Ya Rasulullah, seakan-akan ini adalah pertemuan terakhir, maka berilah kami wasiat. Lalu Rasulullah Saw bersabda :

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ؛ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Aku mewasiatkan kepada kalian untuk selalu bertakwa kepada Allah. Mendengar dan patuh kepada pemimpin walaupun dia adalah seorang budak. Barang siapa diantara kalian yang berumur panjang akan melihat banyak perselisihan. Maka hendaklah kalian menjaga sunnahku, dan sunnah pengganti ku yang jujur dan mengikuti petunjuk. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, hindarilah perkara-perkara yang baru, karena setiap bid’ah adalah sesat. Demikian lebih kurang terjemahan hadis ini.

Secara umum, rasulullah meminta para sahabat dan umatnya untuk selalu bertakwa kepada Allah swt. Dengan kata lain, langkah pertama menyelematkan diri dan agama di akhir zaman adalah dengan bertakwa kepada Allah swt, baik dalam arti sempit maupun pengertian yang luas. Kalaupun tdak bisa menyelamatkan banyak orang, maka yang wajib dijaga adalah diri sendiri dan keluarga.

Langkah kedua, mungkin demi menjaga ketertiban umum, rasulullah meminta kita untuk mendengar dan taat kepada pemimpin. Tentu kita sepakat bahwa pemimpin tersebut adalah pemimpin kaum muslimin, walaupun berasal dari kalangan budak. Ini untuk menjaga soliditas ummat, sehingga tidak mudah diporak-porandakan oleh kedengkian orang-orang musyrik.

Saya kira, poin yang ketiga, penekanannya adalah kepada para pemimpin kaum muslimin untuk memegang teguh sunnah rasulullah dan para penggantinya, khususnya dalam mengayomi umat dan memelihara kewibawaan agama. Karena tidak mungkin bagi masyarakat awam mengikuti dan menjaga sunnah rasul jika pemimpinnya rusak.

Para pemimpin umat ini akan menghadapi cobaan dan ujian yang berat, namun mereka harus bertahan, karena kemampuan bertahan terhadap cobaan inilah yang menjadikannya pemimpin umat.

Saya cenderung memaknai poin terakhir juga dalam konteks kepemimpinan dan dan kemasyarakatan, bukan masalah ibadah dan ajaran agama. Menurut saya, konsep kepemimpinan yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat di masa awal sudah ideal. Hari ini kita melihat kenyataan bahwa konsep-konsep kepemimpinan modern justru memecah belah umat dalam banyak partai, negara, serta berbagai kelompok dan kepentingan, sehingga sulit sekali bagi umat islam di seluruh dunia untuk bersatu dan bersepakat.

Di sebahagian wilayah, umat islam bisa hidup tenang dan beribadah, di tempat lain justru umat ilsam dibantai, dilucuti bahkan dilarang beribadah sesuai dengan keyakinannya.

Umat Islam seharusnya adalah tubuh yang satu, dan dikontrol secara politik dan hukum dalam suatu kendali yang satu juga, sebagaimana pada masa rasulullah, para sahabat, dan orang-orang terdahulu yang kita kenal sebagai khilafah islamiyah.

Umat Islam seharusnya saling membantu dan menguatkan, bukannya saling berperang dan melemahkan. Saya kira, yang dilarang oleh rasul dalam hadis ini adalah mengikuti konsep-konsep politik dan kepemimpinan yang dibuat-buat oleh orang kafir untuk menghancurkan Islam, itulah bid’ah yang sangat berbahaya, menurut saya.

Lalu bagaimana solusinya untuk bisa mengembalikan kesatuan dan persatuan umat Islam? Kembali ke hadis di atas, langkah paling awal adalah memperbaharui ketakwaan kepada Allah SWT, dan melihat Islam sebagai suatu entitas yang lebih besar dari sekedar partai, negara, maupun kelompok. Jika kepentingan umat Islam berbeda dengan kepentingan partai, negara maupun kelompok, seharusnya individu-individu yang berperan dalam partai, negara dan kelompok tersebut lebih mendahulukan kepentingan umat islam.

Ingatlah, Islam sudah dijamin keselamatannya di sisi Allah, tapi partai, negara dan kelompok belum tentu selamat di hadapan pengadilan Allah, baik di dunia apalagi di akhirat kelak.

Khusus bagi kita yang rendah kulitas iman, dan kecil perannannya di  dalam masyarakat, maka seperti hadis yang kita bahas sebelumnya, peran serta kita dalam persatuan umat Islam adalah minimal dengan menjaga lisan kita jangan sampai menyerang dan menyakiti sesama muslim, khususnya tetangga, kawan, karib kerabat dan para ulama.

Wallahua’lam.