Selasa, April 02, 2013

Masih Ada Allah, Bunda...

(sebuah cerpen kegelisahan)


“Bunda, apakah anak-anak sudah tidur?” Sulaiman bertannya pada istrinya, Masyithah.

“Ya, ayah. Anak-anak sudah tidur pulas,” jawab Masyithah lembut, khawatir anak-anaknya terganggu.

“Bunda sudah baca berita di Koran hari ini?” Lagi, tanya Sulaiman pada Masyithah.

“Ya, ayah. Miris sekali nasib anak itu, padahal dia satu-satunya pelita keluarganya.” Masyithah menimpali.

“Masih ada Allah, bunda,” kata Sulaiman sabar. “Di balik semua peristiwa tentu ada hikmahnya,” tambah Sulaiman.

“Benar, ayah. Tapi apakah hukum sudah sedemikian kabur, sehingga tidak ada yang melindungi Nadia kecil, dan orang tuanya yang lemah?” Kembali Masyitah bertanya.

“Tidak juga, bunda. Hukum masih tetap ada. Hanya saja, hukum berlaku bagi orang yang menerimanya.” Jawab Sulaiman tetap sabar.

“Ayah, apakah kelak, ketika si Anisah dan Rahimah sudah sekolah, kota ini akan menjadi lebih aman bagi mereka? Atau sebaliknya, anak-anak tidak berani kita lepas pergi ke sokolah?” Tanya Masyithah.

Sejenak Sulaiman terdiam. Jemarinya saling menggenggam, setelah menarik nafas panjang, katanya “Bunda, sudahlah. Tidur dahulu bersama anak-anak. Kita harus tetap optimis dengan masa depan. Ayah kira, peristiwa ini cukup untuk menyadarkan Pak Walikota, Gubenur, Polisi, juga Jaksa, untuk menjamin rasa aman masyarakatnya kelak.”

“Baiklah ayah, bunda permisi dulu,” kata Masuyithah undur diri menemani tidur anak-anaknya.

“Ya,” jawab Sulaiman singkat.

Selanjutnya Sulaiman kembali menarik nafas panjang. Sulaiman sebenarnya tidak begitu yakin dengan apa yang diucapkannya. Kasus Nadia bukan yang pertama dan terkahir, meskipun terkesan tragis dan menggenaskan.

Jika Sulaiman tidak salah ingat, seminggu sebelumnya teror yang sama juga menimpa gadis belia yang sedang pergi mengaji. Belum lagi, bunuh-membunuh sepertinya juga sudah menjadi cara baru menunjukkan emosi.

Sulaiman sendiri tidak bisa membayangkan, bila anak-anaknya, Anisah dan Rahmah besar kelak akan hidup dalam situasi dan lingkungan yang berbahaya seperti ini.

“Sepertinya orang-orang besar tidak peduli dengan masalah-masalah remeh seperti ini,” batin Sulaiman. Mereka sedang sibuk mempermasalahkan, apakah bendera kuning lebih baik dari bendera hijau atau sebaliknya.

Ya, bagi yang kuning, itu perlambang kemegahan, kesuksesan, cita-cita besar, lapangan kerja, hotel mewah, makmur. Hijau hanya perlambang romantisme picisan, sudah ketinggalan zaman.

Bukan, kata yang hijau, itu perlambang kesejahteraan, kemandirian, sawah lading yang subur, hutan-hutan yang rindang, sayur dan buah yang segar, masyarakat yang sehat dan kuat. Bahkan kuning merupakan perwakilan ketamakan, keserakahan, ketidakadilan.

“Entah mana yang benar,” kembali Sulaiman membatin. Baginya, masalah tersebut sangat pelik, terlebih bagi seorang tukang sapu kontrak bulanan. Hari-harinya adalah menyapu dan terus menyapu, demi senyum dua putrinya di sore hari, ketika dia pulang mereka berteriak “Itu ayah pulang….”

Sulaiman memang puas setelah gedung yang menjadi bagiannya menjadi bersih, rapi, indah dan wangi. Tapi Sulaiman tidak berani bermimpi bila keesokan harinya dia tidak menemukan abu rokok, bungkus permen, atau sobekan kertas yang berserakan di bawah meja atau sudut ruangan. Dia takut tidak akan melihat senyum istri dan anaknya lagi.

“Kasihan anak itu, seharusnya dia masih bisa tersenyum untuk kedua orang tuanya setiap hari,” batin Sulaiman penuh iba. Air matanya menetes, air mata orang tua.

Malam sudah lewat pukul 2 pagi, ketika Sulaiman beranjak dari sajadahnya menuju kamar mandi, membersihkan dua botol susu sisa Anisah dan Rahmah yang sudah terlelap, untu kemudian diisi kembali dengan air putih.

“Anakku, ayah tidak bisa menjanjikan dunia yang lebih baik bagi kalian,” batin Sulaiman sambil memegang botol susu.

“Tapi ayah masih bisa berdoa, supaya kalian bisa menjadi anak-anak yang sehat, sejahtera dan panjang umur. Ayah masih bisa berdoa supaya kalian selalu dalam lindungan Allah, mendapat jodoh yang baik, memiliki keturunan yang baik, cahaya bagi dunia yang lebih baik.”

Sulaiman melangkah perlahan menuju kamar anak-anaknya, ketika suara ribut bebek terdengan dari belakangnya. “Kwek-kwek-kwek………kwek….kwek….kwek……..”

Sulaiman bergegas keluar menuju belakang rumah kecilnya, dimana selusin bebek menjadi penghuninya. “Siapa di situ?” Tanya Sulaiman tegas. Sesosok bayangan tiba-tiba menerjangnya dari belakang. “Aduh…..” jerit Sulaiman tanpa perlawanan.

“Habisi saja!” kata sebuah suara. “Kita mesti buru-buru sebelum tertangkap warga,” kata suara lainnya.

“Siapa kalian?” Tanya Sulaiman terbata-bata, menahan sakit di pinggang bagian belakangnya.

“Ciaatttt….” “Aaah….”
“Cepat kabur sebelum warga lainnya menyusul kemari,” kata sebuah suara yang diikuti gerakan cepat empat orang yang melarikan diri dalam remang cahaya bulan empat belas, meninggalkan Sulaiman penuh darah, terkapar di belakng rumahnya, ditemani selusin bebek.

“Kwek…..kwek…..kwek……..”

***

“Ayah kemana, bunda?” Tanya Anisah dengan suaranya yang masih polos. “Ya, bunda. Ayah biasanya sering gendong adek, bunda.” Si Rahmah menimpali.

“Sabar sayang, ya. Ayah lagi pergi kerja,” jawab Masyithah penuh haru.

“Tapi kok lama, bunda?” Tanya Anisah lagi.

“Ya, nak. Ayah kerja berat supaya kalian bisa pakai baju untuk hari raya,” jawab Masyithah lembut.

“Hore…. Adek mau baju baru yang merah ya bunda…!” Kata Rahmah menimpali.

“Ya, sayang. Sekarang mari kita berdoa untuk ayah, ya!” kata Masyithah sambil memeluk kedua putrinya.

“Ikuti bunda ya…!” “Allahummaghfirlahu……. Warhamhu….. wa’afirhi…. Wa’fuanhu…….!”

“Amin……!” jawab Anisah dan Rahmah serentak.

“Kenapa nangis, bunda?” Tanya Anisah polos.

“Tidak, nak. Bunda hanya terlalu khusyuk berdoa,” jawab Masyitha sambil menghapus air matanya.

“Iya, kakak. Kata ayah doa harus khusyuk biar diterima sama Allah,” kata Rahmah dengan manja.

“Benar, anakku. Sekarang kita bobok ya!” Masyitah mematikan lampu dan memeluk anaknya dalam doa.

***

Empat Terangka Perampokan dan Pembacokan Ditangkap Polisi, Satu Ditembak di Kaki
BeritaPro: Kepolisian telah berhasil menangkap empat orang yang diduga kuat telah melakukan perampokan sebulan yang lalu. Satu diantaranya terpaksa ditempak di kaki karena berusaha melarikan diri.
Setelah merampok sebuah ruamah mewah, mereka juga diduga membacok seorang warga masyarakat yang kebetulan memergoki mereka sesaat sesudah berhasil membawa kabur barang-barang berharga dari lokasi perampokan.
Dari hasil olah TKP, polisi memang menemukan mayat Sulaiman (40) yang tergeletak di belakang rumahnya bersimbah darah, tidak jauh dari rumah di mana perampokan terjadi. Kita tunggu hasil penyelidikan polisi selanjutnya. (abs)

Banda Aceh, 2 April 2013.

Semoga dunia ini menjadi lebih baik, dimulai dari dari saya tentunya.

Selasa, November 27, 2012

Ada yang Aneh dengan Lahu Azza Bang Rhoma

Di Radio Baiturrahman Banda Aceh, FM 98,5 setiap paginya sering memutar lagu-lagu yang bersemangat sebagai pengantar pendengan mempersiapkan aktifitas hariannya. Lagu-lagu tersebut adakalanya adalah lagu arab atau lagu lokal, salah satunya yang sering diputar adalah lagu Rhoma Irama.

Dari sekian lagu, yang kemudian mengusik saya adalah lirik lagu Rhoma yang berjudul AZZA. Sekilas terasa ada yang aneh dan mengganjal perasaan saya dari lagu tersebut. Berikut kutipn liriknya yang saya copas dari internet :

Azza... azza... azza...

Azza azza azza
Azza azza azza

Ku rasakan kasihmu
Sungguh ku rasakan
Ku rasakan sayangmu
Sungguh ku rasakan
Ku rasakan cintamu
Azza...

Apa yang aku minta
Engkau memberikan
Dan apa yang aku dambakan
Engkau menuluskan
Apa yang aku mau
Engkau sediakan
Dan apa yang aku harapkan
Engkau menjanjikan

Azza azza azza
Azza azza azza
Azza

Adakah yang sebaik dia
Adakah yang sebijak dia

Adakah yang setulus dia
Adakah yang seikhlas dia

Adakah
Adakah...

Azza azza azza
Azza azza azza

Ku rasakan kasihmu
Sungguh ku rasakan

Ku rasakan sayangmu
Sungguh ku rasakan
Ku rasakan cintamu
Azza...

Bila aku bersedih
Engkau menghiburkan
Apabila aku merana
Engkau bahagiakan
Bila aku bersalah
Engkau memaafkan
Apabila aku terlena
Engkau menyadarkan

Azza azza azza
Azza azza azza
Azza

Saya kok merasa pangglan azza itu janggal, kesannya kok seperti pujian yang ditujukan kepada AZAZIL yah, nama lain dari Iblis yang menggoda Nabi Adam dan Ibu Hawa. Saya tidak melihat relevansinya ini sebagai suatu pujian bagi Allah Azza wa Jalla.

Apalagi, ketika menyimak video klip lagu ini di youtube, jauh rasanya dari kesan islami atau syiar Islam. beberapa scene menunjukkan simbol yang mirip dengan klip lagu populer yang dibawakan oleh artis-artis yang katanya masuk golongan illuminati, misalnya yang tampak di mata saya adalah :

matahari
satu mata
mata kucing
piramid
sphinx
perempuan bercadar tapi genit
jam pasir
kucing putih
perempuan berjajar
tarian darwis
pola-pola gerakan tangan
unta
perempuan melepas cadar

Wallahu a'lam, mungkin saya salah, tapi bisa jadi ada juga orang lain yang berpikiran sama dengan saya.
Semoga umat ini diselamatkan dari fitnah, dan sebaik-baik hiburan adalah mengingat Allah SWT.

Selasa, November 20, 2012

Melihat Palestina dari Aceh, sebuah sudut pandang

Ketika membaca berita palestina, saya terbayaang ketika aceh masih bergolak dengan konflik bersenjata. Orang-orang Non-Aceh atau yang tinggal di luar Aceh berkomentar bahwa orang Aceh hebat, jago perang, pejuang sejati dan lain-lain yang sifatnya heroik. dan sebagian orang Aceh dengan bangga menerima komentar tersebut.
pada saat yang sama, Aceh terus berkecamuk, darah terus mengalir, korban berjatuhan, ekonomi dan pendidikan terpuruk, bahkan ibadahpun menjadi tidak nyaman. Dan yang merasakannya adalah orang Aceh, bukan orang luar aceh, meskipun mereka bersimpati.

Demikian pula, dengan segala keterbatasan informasi yang saya miliki, saya menilai palestina seperti Aceh. Saya khawatir perang palestina akan terus berlanjut dan simpati terus mengalir, sama seperti darah dan airmata warga palestina. Saya khawatir generasi palestina hanya lahir dan mati untuk perang saja, demikian juga dengan yahudi yang ada di israel. sementara itu, ditempat lain yang jauh, orang-orang sepulang demontrasi, kembali pada rutinitas dan kesenangan pribadinya masing-masing.

Wahai orang-orang yang berfikir, kita perlu mencari solusi untuk menghentikan perang dan membangun peradaban dengan baik. Perang mungkin tidak bisa dihindari, tapi seharusnya bisa dihentikan. tentu ada kalah menang dan untung rugi, tapi Allah tidak menciptakan kita hanya untuk berperang bukan?

Doa kita yang terpenting bukanlah sekedar memenangkan mujahidin dan mengutuk para zionist israel. Ada banyak tempat yang juga bergejolak di bagian bumi lainnya di luar palestina, tapi mungkin kita tidak tahu.

Doa kita yang paling esensial menurut hemat saya yang lemah ini adalah:
Allahumma iftah bainana wabaina qaumina bil haqqi wa anta khairul fatihin.

Kenapa? karena saat ini kita hidup sebagai kelompok yang saling terhubung satu dengan lainnya. sebagai umat manusia kita adalah keluarga besar, sebagai sebuah kaum di akhir zaman, bukan bagian-bagian yang terpisah meskipun kita berbeda warna kulit, bahasa dan agama.

Sekali lagi, menyelamat nyawa manusia adalah perintah yang jelas dari Allah SWT.
Mohon koreksi bila cara berpikir saya salah, kepada Allah semata kita mohon petunjuk dan kebaikan, serta ridhanya. Amin ya rabbal alamin......