"berprasangka baik kepada ulama, ulama su' lahir dari prasangka buruk yang mewujud pada caci maki, penghinaan dan adu-domba"
Ketika Allah mengatakan bahwa yang paling takut kepada-Nya adalah para Ulama, maka ulama ini bukanlah yang sekedar luas ilmunya saja, tapi juga ulama yang mengedepankan kemaslahatan hamba-hamba Allah dan menyelematkan mereka dari kehancuran dan kebinasaan.
Para ulama menjadikan diri mereka sendiri sebagai tumbal bagi kebenaran guna menghindari pertumpahan darah sebagaimana pernah diisyarakat oleh malaikat di awal penciptaan Nabi Adam Alaihissalam.
Selaku pewaris para Nabi, para ulama memilih jihad dengan menyatakan kebenaran di depan penguasa yang dhalim dengan taruhan nyawa dan darahnya sendiri, ketimbang memprovokasi untuk memberontak, membunuh dan menumpahkan darah banyak orang.
Jadi, ketika ulama mendekat kepada kekuasaan, tujuannya adalah melindungi masyarakat dari kedhaliman penguasa, bukan untuk ikut merenggut hak masyarakat.
Ketika ulama mendekat kepada masyarakat, tujuannya adalah untuk menyelamatkan masyarakat dari kebodohannya, bukan mengkhianati penguasa.
Ketika ulama menjauh ke hutan rimba dan gua, tujuannya adalah menyelamatkan kehidupan dari fitnah ilmu pengetahuan, bukan melarikan diri dari kenyataan.
Ulama bukan nabi, apalgi para rasul. Ulama adalah manusia-manusia yang Allah pilih sebagai lentera di tengah-tengah umat akhir zaman. Sebagai manusia dan pribadi, mereka memiliki keterbatasan-keterbatasan, baik wawasan atau kemampuan mengungkapkan.
Maka ulama adalah jamak, adalah mereka semua yang mengambil peran masing-masing sesuai kapasitas dan janjinya di hadadapan Allah.
Jika mereka terputus, dan merasa dirinya sempurna, maka dia bukanlah bagian dari ulama. Dan kita sebagai pengikut ulama, seharusnya menghormati para ulama sesuai kapasitasya masing.
Sebagaimana ungkapan hamba yang shalih dalam al-Quran : Kami tidak membeda-bedakan keimanan kepada para rasul utusan Allah.
maka kita tidak pantas pula mencela sebahgian dan memuji sisanya, para ulama.
Wallahu a'lam
Jumat, Oktober 11, 2013
Kamis, Agustus 01, 2013
Kebanggan Sebagai Seorang Muslim
Dalam setiap mukaddimah ceramah, atau bahkan khutbah jum'at, ulama tua-tua sering mengatakan bahwa nikmat paling besar yang perlu kita syukuri adalah nikmat iman dan nikmat islam, kenapa?
Karena iman dan islam ini tidak diperoleh oleh semua manusia, beda dengan nikmat hidup, nikmat sehat, kekayaan, dan lain-lain. Hanya orang beruntunglah yang memperoleh anugrah keimanan dan keislaman, kemudian adalah orang-orang yang mencari keselamatan.
Bayangkan kalo kita lahir dalam lingkungan yang kafir, apakah kita akan mengenal iman, mengnal Allah dan para rasul-Nya, serta beramal shalih sebagaimana tuntunan al-Quran? untuk ukuran rata-rata manusia, belum tentu, kecuali bagi beberpa orang luar biasa yang mampu menemukan sinar islam dan iman, lalu menjadi orang-orang yang beruntung.
Justru, dari tangan dan lisan merekalah, orang-orang luar biasa tersebut, kita disadarkan bahwa apa yang sudah kita peroleh ini, berupa keimanan dan keislaman merupakan anugrah yang luar biasa, yang harus terus dirawat, dipelihara, dan dibanggakan, meskipun resikonya sangat besar.
Kenapa resikonya besar, karena keimanan dan keislaman kita mendapatkan tantangan yang terus menerus dari pihak-pihak yang mewakili kepentingan Iblis di dunia, yaitu untu menjatuhkan anak cucu adam dari fitrah mereka yang suci, bersih dan mulia.
Islam adalah agama manusia, di mana manusia awam dapat berkembang menjadi manusia yang paripurna, insan kamil, sebagaimana yang dictrakan Allah dihadapan seluruh makhluk-Nya ketika pertama kali diciptakan, khususnya di hadapan Malaikat dan Iblis.
Seruan-seruan yang mengatasnamakan Allah, nabi, al-Quran, dan kebaikan manusia akan mendapatkan cibiran, bahkan permusuhan. Kenapa? Karena mereka merasa nyaman hanya menjadi manusia yang awam saja, yang mudah menyerah pada situasi dan kondisi lingkungan, yang tidak memiliki visi tentang syurga dan neraka di akhirat.
Tapi langkah kita tidak hanya dihalangi oleh orang-orang yang tida percaya saja, tapi juga oleh orang-orang yang terlalu percaya bahwa dirinyalah yang paling selamat, paling dekat dengan tujuan akhir, dan paling benar dalam menafsirkan firman Allah.
Mereka menjadikan syarat penyesatan dan pengkafiran orang-orang di luar pandangan mereka sebagai syarat keimanan dan keislaman yang baru, yang pada kahirnya membawa mereka pada posisi anti manusia, setidaknya manusia yang bukan mereka. Sekali lagi, ini bukanlah jalan keselematan.
Kebanggan kita sebagai muslim, seharusnya tidak menutup mata dan pikiran kita, tapi justru lebih penting membuka diri kita pada kenyataan-kenyataan yang tidak lain adalah ayat-ayat Allah yang 'ditulis' lebih awal dan lebih luas dari al-Quran.
Selalu ada sunnatullah yang mengiringi ayat-ayat Allah yang tertulis, dengan mengerti dan menemukan korelasi antara ayat yang tertulis dan yang tidak tertulis, maka kebanggaan kita sebagai seorang muslim tidak akan sia-sia, dan tidak akan mudah dimentahkan oleh orang-orang yang tidak suka, meskipun mereka melakukan berbagai daya dan upaya.
Semoga Allah memelihara kebanggaan kita sebagai muslim, seperti yang ditunjukkan oleh para pejuang, yang hari ini misalnya tampak pada pemimpin turki dan pemimpin mesir.
Wallahu a'lam....
Karena iman dan islam ini tidak diperoleh oleh semua manusia, beda dengan nikmat hidup, nikmat sehat, kekayaan, dan lain-lain. Hanya orang beruntunglah yang memperoleh anugrah keimanan dan keislaman, kemudian adalah orang-orang yang mencari keselamatan.
Bayangkan kalo kita lahir dalam lingkungan yang kafir, apakah kita akan mengenal iman, mengnal Allah dan para rasul-Nya, serta beramal shalih sebagaimana tuntunan al-Quran? untuk ukuran rata-rata manusia, belum tentu, kecuali bagi beberpa orang luar biasa yang mampu menemukan sinar islam dan iman, lalu menjadi orang-orang yang beruntung.
Justru, dari tangan dan lisan merekalah, orang-orang luar biasa tersebut, kita disadarkan bahwa apa yang sudah kita peroleh ini, berupa keimanan dan keislaman merupakan anugrah yang luar biasa, yang harus terus dirawat, dipelihara, dan dibanggakan, meskipun resikonya sangat besar.
Kenapa resikonya besar, karena keimanan dan keislaman kita mendapatkan tantangan yang terus menerus dari pihak-pihak yang mewakili kepentingan Iblis di dunia, yaitu untu menjatuhkan anak cucu adam dari fitrah mereka yang suci, bersih dan mulia.
Islam adalah agama manusia, di mana manusia awam dapat berkembang menjadi manusia yang paripurna, insan kamil, sebagaimana yang dictrakan Allah dihadapan seluruh makhluk-Nya ketika pertama kali diciptakan, khususnya di hadapan Malaikat dan Iblis.
Seruan-seruan yang mengatasnamakan Allah, nabi, al-Quran, dan kebaikan manusia akan mendapatkan cibiran, bahkan permusuhan. Kenapa? Karena mereka merasa nyaman hanya menjadi manusia yang awam saja, yang mudah menyerah pada situasi dan kondisi lingkungan, yang tidak memiliki visi tentang syurga dan neraka di akhirat.
Tapi langkah kita tidak hanya dihalangi oleh orang-orang yang tida percaya saja, tapi juga oleh orang-orang yang terlalu percaya bahwa dirinyalah yang paling selamat, paling dekat dengan tujuan akhir, dan paling benar dalam menafsirkan firman Allah.
Mereka menjadikan syarat penyesatan dan pengkafiran orang-orang di luar pandangan mereka sebagai syarat keimanan dan keislaman yang baru, yang pada kahirnya membawa mereka pada posisi anti manusia, setidaknya manusia yang bukan mereka. Sekali lagi, ini bukanlah jalan keselematan.
Kebanggan kita sebagai muslim, seharusnya tidak menutup mata dan pikiran kita, tapi justru lebih penting membuka diri kita pada kenyataan-kenyataan yang tidak lain adalah ayat-ayat Allah yang 'ditulis' lebih awal dan lebih luas dari al-Quran.
Selalu ada sunnatullah yang mengiringi ayat-ayat Allah yang tertulis, dengan mengerti dan menemukan korelasi antara ayat yang tertulis dan yang tidak tertulis, maka kebanggaan kita sebagai seorang muslim tidak akan sia-sia, dan tidak akan mudah dimentahkan oleh orang-orang yang tidak suka, meskipun mereka melakukan berbagai daya dan upaya.
Semoga Allah memelihara kebanggaan kita sebagai muslim, seperti yang ditunjukkan oleh para pejuang, yang hari ini misalnya tampak pada pemimpin turki dan pemimpin mesir.
Wallahu a'lam....
Kamis, Juni 20, 2013
Relasi Puasa dengan Prilaku Ekonomi
Malaikat
selaku makhluk samawi yang tidak dibatasi oleh keterbatasan ruang dan waktu
seperti manusia, mengetahui bahwa manusia akan terjebak pada situasi sulit,
yang pada skala resiko terbesarnya akan melakukan kerusakan di muka bumi dengan
menguras semua sumberdaya alam secara semena-mena, dan untuk itu, manusia juga
tidak ragu untuk menumpahkan darah sesamanya (QS. Al-Baqarah: 30).
Wallahu a’lam. Semoga dengan bimbingan Allah SWT, dan
dengan saling ingat mengingatkan, kita bisa melewati hari-hari yang diwarnai
kenaikan BBM ini dengan lebih baik, bukannya malah mewujudkan ramalan malaikat,
karena menurut Allah, masih ada rahasia yang belum diketahui malaikat tentang
manusia, yaitu keutamaan yang disimbolisasikan dengan sujudnya para malaikat
kepada Adam, moyang manusia, dan tentu saja selalu ada yang tidak senang dengan
kondisi ini. Siapa dia?
Asumsi
malaikat ini tampaknya mulai menjadi kesedaran kolektif kita semua, bahwa
setiap harinya sumberdaya alam dieksploitasi oleh perusahaan-perusahaan
multinasional tanpa menghiraukan dampak jangka panjang bagi kelangsungan hidup
manusia dan kestabilan struktur lingkungan hidup. Bahkan, demi memelihara
keuntungan dan domiasi sekelompok kecil manusia terhadap sebahagian besar
manusia lainnya, konflik direncanakan secara sistematis sebagai sebuah
sekenario makro ekonomi.
Di beberapa
tempat, teori ekonmi yang awalnya mendiskusikan tentang ketersediaan, kebutuhan
dan distribusi, dalam praktiknya kemudian berubah menjadi perang saudara dan
invansi, di beberapa tempat melahirkan perbudakan, dan di tempat lainnya,
mungkin juga di tempat kita, mewujud dalam bentuk ketergantungan atau kecanduan
terhadap BBM misalnya dengan segala dampak dan konsekuensi.
Prilaku
ekonomi masyarakat menjadi tidak sehat, mulai dari konsumen rokok, pengecer
minyak, distributor pakaian, hingga produsen elektronik sebagai representasi
pelaku ekonomi, senantiasa berorientasi pada keuntungan dan dominasi. Terjadilah
proses ‘makan-memakan’ secara bertingkat, yang mulanya hanya sekedar mencari
laba dan kepuasan, mulai terasa menggerus kemerdekaan dan kemanusiaan.
Pada level
tertentu, karena berbagai keterbatasan, transaksi ekonomi berubah menjadi
tindak kekerasan fisik, intimidasi dan ancaman. Bagi kelompok yang lebih lemah,
subjek ekonomi berubah menjadi objek, dengan menjual diri: menjual kejujuran,
menjual keadilan, menjual kehormatan, menjuala persaudaraan, menjual
kemerdekaan dan kemanusiaan. Bahkan Alquran mensinyalir bahwa agama juga
dijadikan komoditi ekonomi yang menguntungkan (lihat misalnya QS. Al-Baqarah:
174).
Lalu,
apakah pengetahuan malaikat hanya terbatas pada skenario kehancuran umat
manusia saja, atau mereka juga mengetahui solusinya. Dengan rendah hati,
makhluk samawi yang dalam beberapa kesempatan direkomenasikan oleh al-Ghazali
utuk kita contoh akhlaknya, mengakui bahwa pengetahuan mereka juga terbatas,
sebatas yang Allah izinkan bagi mereka (QS. Al-Baqarah: 32).
Pertanyaan
lebih lanjut, adakah solusi untuk meringankan masalah ekonomi dan kemanusiaan
hari ini, minimal kita bisa meyakinkan diri sendiri bahwa anak dan cucu kita
masih akan mewarisi bumi dalam keadaan yang sehat lahir dan batin.
Saya
katakan minimal dan meringankan, karena selaku manusia ilmu saya sangat
terbatas. Meskipun Allah membekali manusia dengan petunjuk wahyu, lagi-lagi
pada tataran kemanusiaan wahyu bisa dipahami beragam, baik sebagai solusi,
mimpi, atau justru sebagai motivasi untuk membiarkan kemanusiaan sekarat dengan
sendirinya.
Dalam
kondisi ekonomi saat ini yang saling terkait satu sama lain, dan dipengaruhi
oleh kebijakan-kebijakan yang tidak kasat mata dari berbagai elemen yang
berkepentingan secara makro, saya melihat ada satu ‘gerakan” yang bisa
dilakukan untuk mengerem laju kebuasan pelaku ekonomi, yaitu puasa.
Sebelum
mewajibkan puasa formal kepada orang-orang beriman, Allah menegaskan terlebih
dahulu bahwa puasa adalah praktik yang sudah dijalani oleh umat-umat sebelumnya
(lihat QS. Al-Baqarah: 183). Secara lahiriah, ibadah puasa dilakukan dengan
mengurangi konsumsi, khususnya tidak makan dan minum sejak terbit matahari
hingga tenggelamnya. Jika rata-rata manusia mengkonsumsi makanan dan minuman
tiga kali sehari, plus snack dua kali misalnya setiap hari, maka dalam bulan
Ramadhan, seorang muslim sudah melakukan penghematan 30 kali makan siang dan 30
kali snack yang berpengaruh langsung pada efisiensi pengeluaran bulanannya.
Dan bila dilakukan
dengan konsisten, praktik puasa ini bisa mempengaruhi prilaku pasar dan
kegiatan ekonomi, yang sebelumnya menggebu-gebu mengejar keuntungan dan dominasi
menjadi lebih terkendali, karena sebagian pelaku ekonomi bersikap menahan diri.
Karena
puasa masih dipahami secara formal sebagai suatu ibadah tunggal, maka yang
terjadi selama ini, justru selama Ramadhan dan sekitarnya terjadi lonjakan
inflasi, harga barang naik, konsumsi meningkat, dan praktik-praktik kotor dalam
ekonomi justru menemukan momentumnya.
Bila
menilik kembali perintah puasa, gol ketakwaan sepertinya tidak bisa dicapai
hanya dengan menjalankan puasa formal semata. Dibutuhkan lebih dari sekedar
menahan lapar dan haus selama lebih kurang 12 jam setiap harinya untuk mencapai
level takwa secara kolektif yang memberi pengaruh positif pada prilaku ekonomi
masyarakat, yang pada gilirannya akan menyelamatkan umat manusia dari ‘ramalan
sementara’ para malaikat.
Pelaku
ekonomi, baik yang besar maupun yang kecil, harus mampu juga menahan egonya
untuk meraih keutungan dan dominasi pribadi maupun kelompok, baik di bulan
ramadhan maupun di luar bulan ramadhan. Mereka perlu membagi sedikit profit
dengan lingkungannya (seperti zakat dan sedekah), mereka juga perlu membangun
hubungan sosial dengan kelas ekonomi yang berbeda di luar hubungan transaksi
sehingga terbangun sentimen sosial yang positif (seperti silaturrahim, shalat
jamaah).
Dan yang
paling menentukan adalah bersikap adil, baik pada diri sendiri, orang lain,
maupun keluarga. Jika ada jalan pintas menuju ketakwaan sosial dan kolektif, menurut
saya adalah dengan bertindak adil itu, bahkan mungkin lebih dekat dibandingkan
ibadah shalat, zakat dan puasa secara formal (lihat QS. Al-Maidah :8).
Karena sikap
adil adalah representasi yang paling diharapkan dari seseorang yang mampu
melatih jiwanya melalui puasa (menahan diri), shalat (taat aturan, disiplin)
dan zakat (bersedia berbagi dengan sesama manusia).
Ketakwaan kolektif itu akan
lebih sempurna saya rasa, bila karakter utama yang dicapai melalui ibadah haji
itu dapat direalisasikan dengan benar, yaitu kerelaan mengorbankan ego kita
untuk kepentingan orang lain. Menurut saya, salah satu alasan kenapa ibadah
haji dibatasi hanya kepada yang mampu menempuh perjalanan, dikarenakan tujuan
haji yang paling penting bukanlah melakukan perjalanannya itu sendiri, tapi
mencapai sasaran tertinggi melalui kesediaan memberi kesempatan kepada orang
lain untuk sama-sama berhasil, sama-sama sukses, sama-sama bertakwa, sehingga
ada istilah pahala haji bagi mereka yang tidak ke tanah suci.
Langganan:
Postingan (Atom)