Sudah lama halaman-halaman blog ini tidak tersentuh, karena berbagai kesibukan, atau lebih tepatnya adalah kelalaian.
Alhamdulillah, umur masih dipanjangkan Allah hingga masih bertemu ramadhan 1433 H. Besar harapan untuk "menemukan" lailatul-qadar.
Bermodal nasehat dari rekan-rakan, serta perenungan untuk masa depan yang lebih baik, saya memutuskan untuk mengulang kembali kuliah S2, dan meninggalkan ursan-urusan yang sifatnya "dunia."
Tapi berubah secara tiba-tiba tidaklah mudah, dibutuhkan kesabaran dan kekuatan keyakinan untuk menjadi lebih baik, insya Allah.
Saya ingin memulainya dengan mengenang kembali, coretan-coretan lama yang disusun dalam kondisi yang lebih "khusyu'," mudah-mudahan bermanfaat bagi saya dan orang lain yang membutuhkannya.
Mudah-mudahan bisa menemukan lailatul qadar, insya Allah.
Selasa, Juli 31, 2012
Minggu, April 29, 2012
Bicara Keledai
beberapa tertawa dan beberapa menangis
ketika keledai disebutkan
yang tertawa mengira itu hanya lelucon belaka
atau bahwa dirinya lebih mulia dari keledai
bukankah suara keledai 'dihina' Allah?
bukankah orang-orang 'mati rasa' itu dianggap keledai dengan kitab di pelananya?
yang menangis merasa malu dan sedih
karena dirinya bukan keledai
keledai tidak pernah bermaksiat
tidak pernah 'mengangkangi' kewajiban
keledai tidak akan dihisab
bukankah keledai tidak jatuh dua kali pada tempat yang sama?
silakan tertawa dan silakan menangis
karena nyatanya kita bukan keledai
kita punya takdir sendiri
tapi jaganlah terlalu mudah merasa diri lebih mulia
dari keledai
ada kalanya kita menjadi penunggang keledai
tapi banyak pula yang menjadi keledai bagi nafsunya
wahai keledai, kami mohon maaf
bukan bermaksud menghina dan membela diri
tapi memang 'diminta' Allah belajar dari keledai
Note : silahkan merujuk beberapa ayat al-Quran yang mengangkat keledai "himar" atau "hamir" sebagai ibrah bagi yang mau belajar
ketika keledai disebutkan
yang tertawa mengira itu hanya lelucon belaka
atau bahwa dirinya lebih mulia dari keledai
bukankah suara keledai 'dihina' Allah?
bukankah orang-orang 'mati rasa' itu dianggap keledai dengan kitab di pelananya?
yang menangis merasa malu dan sedih
karena dirinya bukan keledai
keledai tidak pernah bermaksiat
tidak pernah 'mengangkangi' kewajiban
keledai tidak akan dihisab
bukankah keledai tidak jatuh dua kali pada tempat yang sama?
silakan tertawa dan silakan menangis
karena nyatanya kita bukan keledai
kita punya takdir sendiri
tapi jaganlah terlalu mudah merasa diri lebih mulia
dari keledai
ada kalanya kita menjadi penunggang keledai
tapi banyak pula yang menjadi keledai bagi nafsunya
wahai keledai, kami mohon maaf
bukan bermaksud menghina dan membela diri
tapi memang 'diminta' Allah belajar dari keledai
Note : silahkan merujuk beberapa ayat al-Quran yang mengangkat keledai "himar" atau "hamir" sebagai ibrah bagi yang mau belajar
Minggu, April 15, 2012
Isyarat Gempa
Rabu, 11 April yang lalu, wilayaha Aceh dan sekitarnya kembali diguncang gempa dengan kekuatan yang memungkinkan timbulnya gelombang tsunami, meskipun kemudian gelombang tsunami tidak terjadi dalam kapasitas yang dikhawatirkan karena mekanisme gempa kali ini yang berbeda dengan peristiwa pada tahun 2004 silam.
Menarik mengetahui fakta bahwa peristiwa gempa adalah fenomena alam yang tidak bisa diprediksi kapan dan di mana kejadiannya. Dengan kata lain, sampai saat ini para ahli juga belum bisa melihat korelasi gempa sebagai suatu 'bencana' yang memiliki kaitan langsung dengan 'kenakalan' manusia di muka bumi, seperti banjir dan longsor misalnya.
Kebetulan saja, saya teringat kembali pada QS. No. 99 : Al-Zalzalah, yang secara harfiah juga berarti gempa atau goncangan. Dulu, ketika kami masih kecil dan tinggal bersama orang tua, kami pernah memuitisasikan terjemahan surat ini. Berikut kutipan terjemahan surat Al-Zalzalah yang saya copy dari software HadistWeb 3.0 :
Secara umum surat ini mendeskripsikan peristiwa qiyamat qubra yang terjadi salah satunya dengan mekanisme gempa bumi yang dahsyat. Akan tetapi saya melihat beberapa hal yang menarik dari ayat-ayat di atas.
Pertama, indikasi bahwa gempa adalah pelepasan beban oleh bumi sebagaimana dinyatakan oleh para ahli gempa sudah diisyaratkan Al-Quran sejak 14 abad silam, ini adalah salah satu kemukjizatan Al-Quran.
Kedua, pertanyaan manusia tentang gempa menunjukkan bahwa gempa memang tidak bisa diprediksi sebelumnya, mekanisme gempa hanya bisa diketahui setelah terjadi, demikian pula tentang tempat, waktu dan intensitas kekuatannya.
Ketiga, klarifikasi bumi tentang peristiwa gempa. Bumi mengatakan bahwa gempa ini terjadi karena perintah dari Allah SWT, jadi bergesernya bumi tidak semata-mata proses kebetulan semata, tapi memang sesuai dengan kehendak Allah SWT. Kenapa Allah memerintahkan bumi untuk 'bergerak' sehingga terjadi gempa?
Jawaban sederhanaya adalah supaya manusia yang telah terkurbur bisa keluar ke permukaan bumi pada hari kiamat. Namun dalam kesempatan ini, saya mencoba menarik benang merah tentang isyarat ayat-ayat di atas dengan peristiwa gempa yang terjadi sebelum hari kiamat.
Gempa yang terjadi sebelum kiamat adalah juga karena perintah Allah SWT. Berdasarkan 'informasi' dari bumi, sebab gempa itu terjadi karena ulah manusia yang bermacam-macam, khususnya terkait dengan kemaksiatan mereka di muka bumi ini. Maka Allah menghendaki supaya mereka sadar dan mengevaluasi diri sesegera mungkin, karena barang siapa yang mengerjakan kebaikan meskipun kecil akan mendapatkan balasan dari Allah, sebaliknya yang mengerjakan kejahatan meskipun kecil juga akan mendapatkan balasan dari Allah SWT.
Jika QS. Ar-Rum ayat 41 mendeskripsikan bahwa kerusakan-kerusakan di muka bumi dikarenakan ulah manusia secara fisik, dan kemudian juga berdampak langsung kepada mereka. Maka gempa sepertinya merupakan konpensasi bumi atas 'beban mental' kemaksiatan manusia. Itu sebabnya maka peristiwa gempa tidak mudah diprediksi sebagaimana bencana alam lainnya.
Wallahua'lam.....
Menarik mengetahui fakta bahwa peristiwa gempa adalah fenomena alam yang tidak bisa diprediksi kapan dan di mana kejadiannya. Dengan kata lain, sampai saat ini para ahli juga belum bisa melihat korelasi gempa sebagai suatu 'bencana' yang memiliki kaitan langsung dengan 'kenakalan' manusia di muka bumi, seperti banjir dan longsor misalnya.
Kebetulan saja, saya teringat kembali pada QS. No. 99 : Al-Zalzalah, yang secara harfiah juga berarti gempa atau goncangan. Dulu, ketika kami masih kecil dan tinggal bersama orang tua, kami pernah memuitisasikan terjemahan surat ini. Berikut kutipan terjemahan surat Al-Zalzalah yang saya copy dari software HadistWeb 3.0 :
|
Text Qur'an
|
|
إِذَا
زُلْزِلَتِ الأرْضُ زِلْزَالَهَا
|
|
Apabila bumi diguncangkan dengan guncangannya (yang
dahsyat),
|
|
وَأَخْرَجَتِ
الأرْضُ أَثْقَالَهَا
|
|
dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang
dikandung) nya,
|
|
وَقَالَ
الإنْسَانُ مَا لَهَا
|
|
dan manusia bertanya: "Mengapa
bumi (jadi begini)?",
|
|
يَوْمَئِذٍ
تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا
|
|
pada hari itu bumi menceritakan beritanya,
|
|
بِأَنَّ
رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا
|
|
karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang
sedemikian itu) kepadanya.
|
|
يَوْمَئِذٍ
يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ
|
|
Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan
yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan
mereka.
|
|
فَمَنْ
يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
|
|
Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun,
niscaya dia akan melihat (balasan) nya.
|
|
وَمَنْ
يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
|
|
Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah
pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.
|
Secara umum surat ini mendeskripsikan peristiwa qiyamat qubra yang terjadi salah satunya dengan mekanisme gempa bumi yang dahsyat. Akan tetapi saya melihat beberapa hal yang menarik dari ayat-ayat di atas.
Pertama, indikasi bahwa gempa adalah pelepasan beban oleh bumi sebagaimana dinyatakan oleh para ahli gempa sudah diisyaratkan Al-Quran sejak 14 abad silam, ini adalah salah satu kemukjizatan Al-Quran.
Kedua, pertanyaan manusia tentang gempa menunjukkan bahwa gempa memang tidak bisa diprediksi sebelumnya, mekanisme gempa hanya bisa diketahui setelah terjadi, demikian pula tentang tempat, waktu dan intensitas kekuatannya.
Ketiga, klarifikasi bumi tentang peristiwa gempa. Bumi mengatakan bahwa gempa ini terjadi karena perintah dari Allah SWT, jadi bergesernya bumi tidak semata-mata proses kebetulan semata, tapi memang sesuai dengan kehendak Allah SWT. Kenapa Allah memerintahkan bumi untuk 'bergerak' sehingga terjadi gempa?
Jawaban sederhanaya adalah supaya manusia yang telah terkurbur bisa keluar ke permukaan bumi pada hari kiamat. Namun dalam kesempatan ini, saya mencoba menarik benang merah tentang isyarat ayat-ayat di atas dengan peristiwa gempa yang terjadi sebelum hari kiamat.
Gempa yang terjadi sebelum kiamat adalah juga karena perintah Allah SWT. Berdasarkan 'informasi' dari bumi, sebab gempa itu terjadi karena ulah manusia yang bermacam-macam, khususnya terkait dengan kemaksiatan mereka di muka bumi ini. Maka Allah menghendaki supaya mereka sadar dan mengevaluasi diri sesegera mungkin, karena barang siapa yang mengerjakan kebaikan meskipun kecil akan mendapatkan balasan dari Allah, sebaliknya yang mengerjakan kejahatan meskipun kecil juga akan mendapatkan balasan dari Allah SWT.
Jika QS. Ar-Rum ayat 41 mendeskripsikan bahwa kerusakan-kerusakan di muka bumi dikarenakan ulah manusia secara fisik, dan kemudian juga berdampak langsung kepada mereka. Maka gempa sepertinya merupakan konpensasi bumi atas 'beban mental' kemaksiatan manusia. Itu sebabnya maka peristiwa gempa tidak mudah diprediksi sebagaimana bencana alam lainnya.
Wallahua'lam.....
Langganan:
Postingan (Atom)