Alhamdulilllah, pada tanggal 18 Januari 2011 yang lalu, isteri saya melahirkan putri kami, anak kami yang kedua. Yang pertama, lak-laki, Shalahuddin Aba, lahir pada 24 Agustus 2007.
Mudah-mudahan, kehadiran bayi mungil ini menjadi rahmat dan pelajaran bagi rumah tangga kami, sehingga kami lebih pandai untuk bersyukur dan mencita-citakan kebaikan bagi seluruh masyarakat, sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah Swt, dan dicontohkan oleh Rasulullah, Muhammad SAW.
Siti Zahira, putri kami, semoga menjadi wanita shalihah yang memelihara keimanan dan kehormatannya, dan menjadi ibu yang mulia, istri yang bertanggungjawab, serta saudari yang selalu sedia membantu.
Anak-anak kami, kehadiran kalian ke dunia ini adalah kehendak Allah, dan dengan takdir-Nya pula kalian, dan kita semua akan kembali kepda-Nya.
Kita lahir tanpa atribut fisik keduniaan, hanya insting kemanusiaan. Maka kita harus mempersiapkan diri untuk kembali menghadap Allah, juga bukan dengan atribut fisik duniawi, tapi dengan mematangkan potensi kemanusiaan kita yang dalam al-Quran disebut sebagai fitrah.
Semoga Allah selalu memelihara kita, amin.....!
Minggu, Januari 23, 2011
Minggu, Januari 09, 2011
Korupsi, Baunya Juga Jangan!

Ini kisah tentang keteguhan seorang sahabat saya dalam menghindari korupsi. Baginya, korupsi bukan sekedar melakukan atau tidak melakukan, bahkan baunya juga jangan dekat-dekat.
Beberapa waktu yang lalu, shabat saya ini memberikan kabar gembira di sela-sela latihan aikido di dojo kami. "Kawan-kawan, saya sudah lulus CPNS di Depkes, di KKP Kota S," katanya gembira. Wah, sungguh kabar yang menggembirakan.
Malam itu, usai latihan kita ngumpul bareng di salah satu Cafe milik anggota dojo juga, dalam rangka syukuran kelulusan sahabat kami itu, kita dibayarin makan minum sewajarnya saja, selebihnya ya bayar sendiri.
Beberapa waktu dia tidak hadir latihan, karena mengurus berkas-berkas kelulusannya sebagai CPNS, kebetulan dia dokter yang selama ini kami tau mengabdikan dirinya di rumah sakit jiwa di kota kami. Dia orang yang baik, kami mendoakan semoga semua proses yang dialuinya berjalan lancar.
Seminggu berselang, sahabat ini kembali hadir di dojo untuk latihan, tapi kali ini kabar yang dibawanya kurang sedap. Di tempat dia akan ditugaskan, aroma korupsi sangat kental baunya, mengalahkan aroma kupi ulee kareng yang sering kami minum saat ngumpul bareng usai latihan. "Kurupsi sudah menjadi biasa dan dilakukan terang-terangan, yang tidak mau ikutan dianggap bodoh dan diasingkan," ceritanya sama kami.
Kami hanya mengurut dada saja, memang korupsi saat ini ada di mana-mana. Kami hanya menasihatinya untuk sabar "Yang peting abang kan tidak korupsi juga," kata saya ketika itu.
Beberapa waktu berselang, sang sahabat tidak menunjukkan dirinya di dojo. Mungkin yang bersangkutan sibuk bekerja di tempat barunya di Kota S. Saya pribadi juga tidak punya firasat apa-apa tentang sahabat yang satu ini.
Kemarin sore, dia kembali hadir latihan, bahkan datang lebih awal dari biasa. Pertanyaan pertama yang diutaraknnya kepada saya "Ada kontak aikido gak di Kota M, mungkin nanti saya latihan aikido di sana," katanya. Saya heran "Bang, emang udah pindah tugas dari Kota S ke Kota M, cepet banget urusannya," saya menimpali.
"Bukan, saya sudah mengundurkan diri," kata sahabat ini kalem. "Kok, mengundurkan diri, kan susah untuk lulus CPNS di zaman ini, bang?" tanya saya tambah penasaran.
"Saya tidak betah di sana, jiwa saya tidak tenang di lingkungan orang-orang yang korup. Maka saya memutuskan berhenti saja. Rezeki itu sudah diatur oleh Allah," sahabat ini menjelaskan.
"Jadi di Kota M nanti ngapain?" tanya saya, masih antara percaya dan tidak percaya. "Orang tua saya sudah tua di Kota M, saya ingin menjaga orang tua, sekalian mencari penghidupan di sana, mudah-mudahan jiwa saya bisa lebih tenang," katanya.
"Oke, bang. Abang hebat, kami salut dengan keputusan abang," saya mengapresiasi keputusan sahabat ini, begitu mulia cita-citanya, menjaga orang tua, dan menghindari lingkungan yang korup. Saya pribadi berdoa, semoga usahanya di Kota M nanti dimudahkan Allah, dan dia selalu dipelihara dari praktik-praktik yang koruptif, demikian pula halnya dengan saya dan sahabat-sahabat lain di sini.
"Nanti sms aja ya, nomornya," sahabat ini mengingatkan saya seusai latihan. " Ya, bang, segera," jawab saya. Tidak hanya segera memberinya kontak person aikido di Kota M, tapi juga segera untuk membagi pengalaman ini dengan sahabat-sahabat yang lain.
Sekali lagi, salut buat abang!
(maaf bila ada yang tersinggung, tulisan ini semata-mata untuk membuka mata dan hati kita, mari sama-sama memperbaiki diri, bukannya memelihara alasan untuk pembenaran praktik-praltik koruptif kita)
Rabu, Desember 29, 2010
Pelajaran dari Rumah Sakit
Beberapa waktu yang lalu, setelah pulang seminar aikido di Medan, saya terserang demam hebat, untuk memastikannya, doter keluarga meminta saya memeriksakan darah di laboratorium rumah sakit.
Saya datang ke rumah sakit, sebagai orang yang sakit, dan membutuhkan pelayanan. Di mata saya, penyakit saya, atau kebutuhan saya akan pemeriksaan darah adalah nomor satu, saya buda dengan keadaan di sekeliling saya. Tapi apa boleh buat, rumah sakit ada aturan, dan dana di kantong saya juga terbatas.
Saya terpaksa harus antri untuk mendaftar kan diri pada baagian pendaftaran, dan supaya berobatnya gratis (pakai askes), daftar tunggu menjadi semakin panjang lagi. Satu hari saya habiskan di rumah sakit hanya untuk mendaftar saja. Untung sebelumnya saya sudah diresepi minum air putih diatas 2 liter setiap harinya. Jadi kondisi kesehatan saya semakin membaik.
Hari ke 2, saya kembali untuk pemeriksaan darah di Laboratorium, karena merasa sudah mendaftar, saya datang ke rumah sakit kira-kira pukul sembilan. Ternyata antrian sudah kembali panjang. Mungkin karena saya ke rumah sakit dengan baju dinas kantor, tak lama kemudian saya dipanggil, mungkin mereka punya sodilaritas sesama pegawai negeri harus saling tolong menolong.
Hasil lab baru bisa diambil sore harinya, ketika tidak ada lagi dokter rumah sakit yang bisa dimintai pendapatnya tentang penyakit saya. Namun saya bersyukur, karena pada bari-baris penyakit yang berbahaya, hasil pemeriksaan saya bernilai negatif. Sungguh suatu perasaan yang akan sangat berbeda bila anda menerima laporan psikologi dengan hasil yang sama.
Saya kembali keesokan harinya, pagi-pagi ke rumah sakit, dengan semangat untuk mengdengarkan kabar baik selanjutnya (tentu tetap mengkonsumsi 2 liter air seperti biasa). Kami kembali antri di depan ruang dokter, kali ini bukan karena banyak orang yang membutuhkan pelayanan, tapi dokternya belum tiba.
Setelah menunggu hingga pukul 8.30, bersama dua orang ibu-ibu yang juga punya keperluan sama. Saya keluar untuk sarapan pagi. Ketika saya kembali, dokternya sudah ada, saya langsung saja masuk, karena tidak harus antri lagi. Tapi yang saya terima bukannya komentar dokter tentang hasil pemeriksaan lab, "Bapak harus mendaftar dulu, supaya nanti untuk obatnya tidak perlu baya" kata dokter itu.
Spontan saya menjawab "Oke, dok." Saya langsung keluar dengan kecewa. Bukan mendaftar seperti yang dimaksudkan dokter, tapi segera balik ke kantor, dan tidak lupa singgah di kantin untuk minum secukupnya.
Saya merasa hebat, karena kemudian saya sehat tampa harus mengantri lagi di depan loket pendaftaran. Saya merasa sombong.....
Tapi, kemarin, saya kembali kerumah sakit, kali ini karena ada kawan yang membutuhkan perawatan di sana. Saya kembali sebagai orang sehat, dengan pikiran yang sehat. Tapi tiba-tiba saja, saya tidak berani mengangkat wajah saya seperti sedia kala, saya malu dengan orang-orang yang menaggung berbagai macam sakit, tapi mereka tetap sabar, walau harus antri dan bolak balik antar loket dan ruangan.....
Saya datang ke rumah sakit, sebagai orang yang sakit, dan membutuhkan pelayanan. Di mata saya, penyakit saya, atau kebutuhan saya akan pemeriksaan darah adalah nomor satu, saya buda dengan keadaan di sekeliling saya. Tapi apa boleh buat, rumah sakit ada aturan, dan dana di kantong saya juga terbatas.
Saya terpaksa harus antri untuk mendaftar kan diri pada baagian pendaftaran, dan supaya berobatnya gratis (pakai askes), daftar tunggu menjadi semakin panjang lagi. Satu hari saya habiskan di rumah sakit hanya untuk mendaftar saja. Untung sebelumnya saya sudah diresepi minum air putih diatas 2 liter setiap harinya. Jadi kondisi kesehatan saya semakin membaik.
Hari ke 2, saya kembali untuk pemeriksaan darah di Laboratorium, karena merasa sudah mendaftar, saya datang ke rumah sakit kira-kira pukul sembilan. Ternyata antrian sudah kembali panjang. Mungkin karena saya ke rumah sakit dengan baju dinas kantor, tak lama kemudian saya dipanggil, mungkin mereka punya sodilaritas sesama pegawai negeri harus saling tolong menolong.
Hasil lab baru bisa diambil sore harinya, ketika tidak ada lagi dokter rumah sakit yang bisa dimintai pendapatnya tentang penyakit saya. Namun saya bersyukur, karena pada bari-baris penyakit yang berbahaya, hasil pemeriksaan saya bernilai negatif. Sungguh suatu perasaan yang akan sangat berbeda bila anda menerima laporan psikologi dengan hasil yang sama.
Saya kembali keesokan harinya, pagi-pagi ke rumah sakit, dengan semangat untuk mengdengarkan kabar baik selanjutnya (tentu tetap mengkonsumsi 2 liter air seperti biasa). Kami kembali antri di depan ruang dokter, kali ini bukan karena banyak orang yang membutuhkan pelayanan, tapi dokternya belum tiba.
Setelah menunggu hingga pukul 8.30, bersama dua orang ibu-ibu yang juga punya keperluan sama. Saya keluar untuk sarapan pagi. Ketika saya kembali, dokternya sudah ada, saya langsung saja masuk, karena tidak harus antri lagi. Tapi yang saya terima bukannya komentar dokter tentang hasil pemeriksaan lab, "Bapak harus mendaftar dulu, supaya nanti untuk obatnya tidak perlu baya" kata dokter itu.
Spontan saya menjawab "Oke, dok." Saya langsung keluar dengan kecewa. Bukan mendaftar seperti yang dimaksudkan dokter, tapi segera balik ke kantor, dan tidak lupa singgah di kantin untuk minum secukupnya.
Saya merasa hebat, karena kemudian saya sehat tampa harus mengantri lagi di depan loket pendaftaran. Saya merasa sombong.....
Tapi, kemarin, saya kembali kerumah sakit, kali ini karena ada kawan yang membutuhkan perawatan di sana. Saya kembali sebagai orang sehat, dengan pikiran yang sehat. Tapi tiba-tiba saja, saya tidak berani mengangkat wajah saya seperti sedia kala, saya malu dengan orang-orang yang menaggung berbagai macam sakit, tapi mereka tetap sabar, walau harus antri dan bolak balik antar loket dan ruangan.....
Langganan:
Postingan (Atom)