Sabtu, Agustus 09, 2025

Perayaan HUT Kemerdekaan dan Maulid Nabi Muhammad SAW

Kebetulan di tahun 2025 ini, momen HUT Kemerdekaan Indonesia dan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW berdekatan, berikut beberapa perenungan terkait HUT Kemerdekaan dan Maulid Nabi Muhammad SAW, semoga bermanfaat.


1. Perlukah Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, mari kita jawab pertanyaan lainnya yang lebih mudah dipahami, karena lebih dekat dengan keseharian kita.

Apakah perlu minum suplemen atau multivitamin? Ada 4 kelompok jawaban untuk pertanyaan ini.

Jawaban orang sakit: tentu perlu, karena bisa menjadi obat untuk penyakitnya, atau membantu mempercepat kesembuhannya.

Yang kedua, jawaban orang sehat : gak perlu minum suplemen atau multivitamin, yang penting cukup makan, cukup olahraga, hidup baik-baik saja.

Yang ketiga, jawaban orang yang pernah sakit, atau orang yang mengerti manfaat multivitamin dan suplemen ini dalam memelihara dan menjaga kesehatan, kebugaran dan semangat hidup: perlu sekali mengkonsumsi suplemen atau multivitamin secara teratur.

Yang terakhir, jawaban orang yang memiliki kelainan, atau penyakit yang tidak bisa menerima vitamin dan suplemen, karena bisa tambah sakit atau mengalami alergi: sangat tidak dianjurkan dan perlu dijauhi.

Lalu bagaimana dengan menyelenggarakan maulid Nabi Muhammad SAW? Menurut para ulama, memperingati dan menyebarkan maulid Nabi Muhammad SAW adalah suplemen dan multivitamin bagi jiwa orang beriman.

Dengan maulid, jiwa orang yang beriman yang lagi sakit bisa cepat sembuhnya. Bagi yang sehat jiwanya, kekuatan dan kualitas keimanan nya bisa terpelihara dengan baik, bahkan bisa meningkat, naik derajat, mendapatkan ahwal bahkan bisa bertemu muka dengan Nabi Muhammad SAW (bisa dalam mimpi atau yaqdhatan).

Tapi ada juga orang beriman yang merasa baik-baik saja, karena yang wajib-wajibnya terjaga, ibadah yang sunnah juga ada. Jadi, ada gak adanya maulid Nabi tidak terlalu signifikan. 

Yang terakhir, justru trauma dan anti dengan maulid Nabi Muhammad SAW, hidup yang tenang bisa susah dan gelisah, bahkan bisa menderita gila hingga harus pindah tempat tinggal. Mereka ini mungkin bermasalah jiwanya dan memiliki kelainan, atau boleh jadi imannya berbeda dengan kita.

Nah, sekilas bisa kita simpulkan bahwa jawaban untuk perayaan maulid ini bukan sekedar perlu dan tidak perlu saja. Terserah kita semua untuk memilih jawabannya sesuia kriteria :

A. Orang Sakit

B. Orang Pernah Sakit

C. Orang gak pernah sakit

D. Orang Kelainan 

D. Lainnya (?)

#sambilminumsanger


2. Untuk apa perayaan HUT kemerdekaan?

Banyak generasi muda bertanya, untuk apa perayaan HUT kemerdekaan diadakan, buang-buang biaya, buang-buang waktu, bagusnya kan pigi healing dan liburan saja, bersenang-senang?

Lagian juga banyak yang merasa belum merdeka, tidak mencintai tanah air, dan ada banyak keluhan lainnya. Lalu apa relevan untuk memperingati HUT kemerdekaan ini?

Itu baru 80 tahun merdeka, sudah merasa tidak nyambung lagi denga semangat dan perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia ini, apa lagi dengan Nabi Muhammad SAW yang jaraknya lebih dari 14 abad yang lalu?

Memang masalah nya di perasaan tidak nyambung ini. Tanpa perasaan patriotisme, momentum peringatan kemerdekaan akan hambar dan sia-sia.

Begitu juga dengan maulid, kalo merasa tidak nyambung dengan Nabi, tidak ada mahabbah, akan terasa kering, bahkan terkesan mubazir dan tambah dosa.

Bagaimana supaya nyambung? Pertama, perayaan HUT kemerdekaan maupun maulid tetap perlu diadakan, kerena momentum ini adalah syiar, juga simbol yang menjadi salah satu simpul bagi kita untuk melacak masa lalu (untuk bisa nyambung rasa) dan menatap masa depan yang lebih baik. Jika ditiadakan secara semena-mena, maka simpul ini akan putus. Akan sulit bagi kita kedepannya untuk memiliki rasa identitas (baik sebagai bangsa indonesia atau sebagai umatnya Nabi Muhammad SAW), dan akan lebih sulit lagi untuk mewariskan rasa memiliki ini bagi generasi yang akan datang.

Tanpa (rasa) identitas, kita sudah tidak ada sebagai bangsa (dihadapan musuh2 negara), juga sudah kalah (di depan setan sebagai musuh kita dalam kehidupan beragama).

Kedua, memanfaatkan momentum ini untuk belajar kembali sejarah kemerdekaan: bagaimana sebelum merdeka, bagaimana bisa merdeka, bagaimana setelah merdeka, bagaimana mewarisi dan menjaga kemerdekaan?

Sehingga, minimalnya, ketika melihat bendera merah-putih, kita memiliki perasaan yang sama dengan orang-orang terdahulu, meskipun peran yang kita emban sekarang berbeda-beda. Ya, karena tantangan dan penderitaan nya juga berbeda-beda. Tapi pengetahuan dapat memelihara semangat, semangat dapat menjadi bahan bakar bagi perjuangan dan daya tahan. Bayangkan bila bahan bakanya habis?

Demikian juga sebagai umat Nabi Muhammad SAW, momentum ini perlu digunakan untuk belajar kembali tentang Nabi Muhammad SAW: bagaimana sebelum Nabi SAW lahir, kenapa beliau diutus sebagai Nabi dan Rasul? Apa misi dan seperti apa harapan beliau SAW? Bagaimana hidup dan perjuangan beliau SAW? Apa yang beliau wariskan untuk ummatnya? Bagaimana warisan ini tetap bertahan dan terpelihara?

Minimal, dengan wawasan yang diperoleh tidak lagi anti maulid Nabi Muhammad SAW, gak lagi malas membaca selawat, dan tidak menganggap remeh orang-orang yang mendakwahkan sunnah Nabi Muhammad SAW.

Zaman boleh berbeda, tempat dan peran juga berbeda-beda, tapi identitas kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW perlu kita jaga dan pelihara, bukan 100 atau 200 tahun, tapi sampai ajal kita, sampai kita nanti dibangkitkan di padang mahsyar, kita masih memiliki identitas sebagai umatnya Nabi Muhammad SAW, yang layak untuk mendapatkan syafaat, yang layak untuk masuk Syurganya Allah SWT.

Jadi, anda setuju? sekali merdeka tetap merdeka, tidak peduli sampai kapan merah-putih tetap kita jaga meski kadang warnanya menjadi kusam.

Tak peduli apa saja dosa dan maksiat kita, tidak boleh keluar dari ummatnya Nabi Muhammad SAW, setuju?

#sangernyahabis


3. Bagaimana bisa nyambung rasa (memiliki MAHABBAH)?

Ada banyak jawaban, ada banyak cara. Tapi mana yang cocok dengan kita, sepenuhnya adalah taufiq dari Allah SWT.

Syekh Sya'rawi mengatakan: ada mahabbah karena akal, dan ada mahabbah karena hati.

Mahabbah karena akal, karena mengetahui perlunya mahabbah kepada sesuatu. Misalnya, orang yang sakit akan mahabbah kepada obat yang pahit, atau pengobatan yang mahal sekalipun, karena ia ingin sehat, dan mengetahui bahwa perkara tersebut adalah wasilahnya untuk mencapai yang diharapkan.

Artinya, mahabbah disini didasarkan pada ilmu, tanpa ilmu tidak ada mahabbah, dengan kata lain, kebodohan adalah musuh mahabbah.

Untuk bisa cinta pada tanah air, dan menerapkan makna dari Hubbul Wathan minal Iman, perlu ada ilmu.

Demikian juga untuk bisa mahabbah kepada Nabi, keluarga Nabi, para ulama dan agama, harus ada ilmu. Dalam konteks ini, kejahilan sama dengan kekafiran sepertinya relevan.

Yang kedua, menurut Syekh Sya'rawi, adalah mahabbah hati, mahabbah yang alami merupakan anugrah dari Allah SWT. Tidak mempedulikan sebab dan hukum logika. Seperti sorang ibu mencintai anaknya walaupun anaknya bodoh. 

Mahabbah bentuk kedua ini adalah pemberian Allah SWT. Adalah orang yang beruntung jika bisa cinta kepada Nabi Muhammad SAW begitu saja, tanpa embel-embel apapun yang bisa dinilai secara kasat mata.

Mungkin, secara lahiriah, orang ini akan dipandang gila, sama saja bila ada orang mengaku cinta negara hari ini, pasti dianggap culun dan naif sekali. Tapi itulah hati, tidak bisa dinalar secara logika.

Sebenarnya, Nabi Muhammad SAW tidak meninggalkan kita tanpa jawaban sama sekali. Ada cara mudah untuk jatuh cinta dan mencintai, sekaligus memelihra mahabbah itu hingga kelak kita haturkan dihapadan Allah SWT sebagai bukti iman kita kepada Nabi Muhammad SAW dan risalahnya.

Imam Tarmizi meriwayatkan dari Ibnu Abbas Ra, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda : cintailah Allah karena nikmat-nakmat Nya, cintailah aku karena Allah, dan cintailah ahlulbaitku karena aku.

Untuk bisa jatuh cinta kepada Allah, renungilah nikmat-nikmat Nya, kemudian jadilah hamba yang bersyukur. Salah seorang ulama mengibaratkan: kalo anda bisa berterimakasih dan membalas kebaikan orang yang berbuat baik kepada anda, maka kebaikan Allah sebenarnya lebih banyak, Allah lebih layak untuk rasa terimakasih kita dan balas jasa kita.

Salah satu bentuk terimakasih ini adalah mencintai Nabi Muhammad SAW, dan balas jasa Nabi Muhammad SAW dengan mencintai ahli bait Nabi SAW.

Tindakan syukur ini melahirkan Mahabbah, ketika sudah benar-benar cinta, yang diperlukan bukanlah dalil atau alasan, tapi bukti cinta. Apa bukti cinta untuk orang tua kita? Apa bukti cinta kita untuk kekasih kita? Apa bukti cinta kita untuk anak-anak kita?

Apa bukti cinta kita kepada Allah? Apa bukti cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW? Apa bukti cinta kita kepada ahli bait Nabi Muhammad SAW?

Tapi ini hanya berlaku bagi hati yang bisa jatuh cinta. Jika hati anda keras, mohon maaf, solusi ini bukan untuk anda 🙏😀

#sudahjelangdhur


Sabtu, Maret 15, 2025

Waitankung Sebagai Amal Jariyah

Sudah lama tidak menulis di blog ini, ya karena malas, lupa juga berbagai kesibukan lainnya. Namun kali ini saya merasa perlu berbagi melalui tulisan ini, sesuatu yang saya rasa penting bagi saya, bagi semua orang juga tentunya.

Kebetulan ketika browsing perihal terapi kesehatan aternatif, saya menemukan satu kata yang menarik di Online Shope, yaitu Waitankung, muncul sebagai produk buku bekas tentang senam kesehatan. Karena penasaran, saya mencari informasinya di internet.

Ternyata, waitankung ini adalah semacam senam atau olah raga kesehatan yang terdiri dari 12 gerakan fisik plus pernafasannya, diperkenalkan kembali oleh salah seroang praktisi belediri, danguru olahraga di Taiwan. Beliau adalah Master Chang Chih Tung (bisa dibaca juga Zhang Zhitong), seorang muslim cina, dan setelah naik haji, juga menambah namanya menjadi Haji Ali Chang Chih Tung.

Beliau seorang muslim yang taat, dan tidak menikah sampai wafatnya. Cerita beliau sangat menarik sehingga saya terinspirasi untuk mencari tau lebih banyak tentang Waitankung, dan berniat membagikannya sebagai perpanjangan tangan bagi beliau dalam menyebarkan manfaat dari Waitankung sebagai salah satu amal jariyah beliau, yang pahalanya terus mengalir meski beliau telah meninggal. Kuburan beliau ada di pemakaman muslim Kota Taichung, Taiwan.

Kisah beliau dalam bahasa Indonesia, yang merupakan saduran dari reportase Majlah Tempo Tahun 1987, dapat di simak di alamat berikut : https://senamsehatindonesia.blogspot.com/2017/05/sejarah-senam-wai-tan-kung.html

Di blog tersebut juga tersedia panduan latihan Waitankung, yang karena popularitasnya pada tahun 1980-an telah diganti namanya menjadi Senam Sehat Indonesia. 

Informasi tentang Masteng Haji Ali Chang Chih Tung memang sangat terbatas di internet, khususnya yang berbahasa Indoensia dan dan Inggris. Ketika kita mencari kata kunci "Chang Chih Tung" atau "Zhang Zhitong," maka informasi yang muncul adalah tentang salah seorang cendikiawan Cina di masa akhir Dinasti Qin, yang namnya sama. Boleh jadi ini adalah salah seorang leluhur Master Haji Ali Chang Chih Tung, yang sebagaimana pegakuan beliau, bahwa leluhurnya semua beragama Islam.

Informasi tetang Master Haji Ali dan Waitankung sepertinya lebih banyak tersedia dalam website berbahasa cina yang berbasis di Taiwan. Jadi, untuk mebacanya membutuhkan bantuan dari traslator yang kini sudah mudah digunakan di berbagai aplikasi browser.

Alfatihah untuk Master Haji Ali Chang Chih Tung, yang wafat pada 14 Maret 1997. Semoga mendapatkan pahala yang baik di sisi Allah, dikumpulkan bersama para pendahulunya yang shaleh, dan keberkahan serta manfaat ilmunya selalu mengalir hingga akhir zaman. 

Dari hasil browsing ini, saya mengumpulkan sejumlah materi Waitankung yang mungkin bermanfaat bagi para meminat, baik untuk mencoba berlatih atau sekedar ingin tahu saja. Materi-materi tersebut dalam bentuk File PDF, sebagian berbahasa Indonesia (hasil scan buku-buku lawas), juga berbahasa Inggris dan Cina. Berikut link materinya : Download PDF Waitankung

Berikut beberapa foto Master Haji Ali Chang Chih Tung

1. Ini adalah foto Leluhur Chang Chih Tung (1837-1909), seorang cendikiawan cina Dinasti Qin, yang muncul bila kita mecari info tetang Chang Chih Tung (Zhang Zhitong) di internet.

(sumber : China Chang Chih Tung Chinese Grand - auctions & price archive)

2. Foto Master Haji Ali Chang Chih Tung yang populer

(Sumber : SENAM WAITANKUNG (Bag-1) - BLOG NINIEK SS桃園市中華外內丹功運動協會)

3. Makam Master Haji Ali Chang Chih Tung di Kota Taichung, Taiwan (Foto Nisan)

(Sumber : 03.bmp (794×1187))

4. Monumen Peringatan di Makam Master Haji Ali

(sumber : 02.bmp (1193×794))

5. Prasasti Penghargaan Pemerintah Taiwan atas Jasa dan Kontribusi Master Haji Ali Chang Chih Tung sebagai Pelatih, Guru dan Pendidik (di bagian bawah Monumen)

(Sumber : 07.bmp (1173×787))

6. Kegiatan Ziarah dan Doa di Makam Master Haji Ali di Pemakaman Muslim Kota Taichung, Taiwan


(Sumber : Kegiatan peringatan Tuan Zhang Zhitong --- 張志通大師歸真追思活動)

7. Kumpulan Foto Kunjungan Master Haji Ali Chang Chih Tung ke Indonesia Tahun 1994, yaitu antara 9 sd 16 Juli 1994 (dalam video tanpak Beliau sudah kurusan, tidak lagi gemuk seperti foto di atas)

(sumber : 世界丹功宗師張志通大師出訪印尼紀念影片1994/7/9~16)

Demikian, semoga bermanfat, amin.





Jumat, Juni 16, 2017

Hadis Nomor 27 dari Kitab Arbain Imam Nawawi



Apakah seseorang bisa membedakan kebaikan dan dosa? Semestinya manusia telah dibekali oleh Allah dengan kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buru. Salah satu instrumen untuk itu adalah akal. Akal identik dengan kecerdasan logika, analisa dan luasnya informasi yang dimiliki. Orang yang berakal identik dengan orang pintar atau berilmu.

Akan tetapi, adakalanya keluasan ilmu juga tidak bisa menyelamatkan manusia dari jebakan dosa. Pada saat itu, manusia perlu kepada kecerdasan nuraninya, yang identik dengan qalbu, hati.

Dalam hadis ke 27, dapat kita lihat jawaban Rasulullah kepada sahabat An-Nawas bin Sam’ani :

الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ، وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِك، وَكَرِهْت أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

Kebaikan tercermin dari akhlak yang baik, dosa apa yang menyesakkan dadamu, dan kau khawatirkan diketahui oleh orang lain.

Dalam riwayat yang lain, Sahabat Wabishah bin Ma’ad mendatangi Rasulullah untuk bertanya tentang apa itu kebaikan, maka Raulullah menerangkan :

استفت قلبك، الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إلَيْهِ النَّفْسُ، وَاطْمَأَنَّ إلَيْهِ الْقَلْبُ، وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ، وَإِنْ أَفْتَاك النَّاسُ وَأَفْتَوْك

Mintalah fatwa kepada hatimu, kebaikan adalah yang membuat jiwa menjadi tenang dan hati menjadi tentram. Sementara dosa adalah yang meresahkan jiwa dan menyesakkan dada, meskipun kamu sudah bertanya kepada orang lain.

Pada dasarnya, jiwa dan hati manusia itu baik, dan bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, bahwa kondisi jiwa dan hati itu sehat/bersih, dan kita terbiasa untuk tidak mengabaikan alarm yang diberikan oleh hati kita.

Para sahabat rasul adalah orang-orang memelihara dan menjaga kebersihan hati dan jiwanya, sehingga mereka bisa langsung mempedomani fatwa dari hatinya. Namun bagi kita yang awam, perlu membiasakan diri untuk membersihkan hati dengan ibadah, berprasangka baik, berzikir, dan mendengarkan nasehat dari para ulama. Dengan demikian, mudah-mudahan kita bisa bebas dari jebakan nafsu dan syahwat kita, yang kita kira sebagai hati nurani kita.

Namun, secara sederhana, dari hadis di atas, Rasulullah menjelaskan dua kriteria yang harus dipenuhi untuk menyatakan sesuatu itu baik, yaitu jiwa tentram dan hati juga tenang. Bila jiwa tentram tapi hati gelisah, berarti itu nafsu. Bila hati yakin namun jiwa melawan, kemungkinan kita sedang melawan hawa nafsu dalam melakukan amal shaleh. Kita masih harus terus berlatih mengendalikannya.

Jika sesuatu itu menyesakkan di dada, meresahkan jiwa, meskipun sudah bertanya kepada orang lain yang lebih mengerti, berarti ada sesuatu yang salah dengan diri kita, bisa jadi niat kita salah jika lahiriah perbuatannya baik, atau memang sebuah kesalahan, namun samar pada pandangan orang lain.

Jika kita mengalami ini, bersyukurlah bahwa hati kita masih hidup, alarm yang Allah titip pada diri kita masih berfungsi. Mari kita jaga dan rawat, karena bila hati telah mati, tidak ada beda lagi banginya apakah sesuatu itu baik atau berdosa.

Wallahu a’lam.

Selasa, Juni 13, 2017

Hadis Nomor 28 dari Kitab Arbain Imam Nawawi



Gejolak akhir zaman, telah diwanti-wanti oleh Rasulullah sejak dahulu kepada para sahabatnya. Barang siapa yang berumur panjang, akan melihat perbedaan-perbedaan yang memecahbelah umat islam. Pada hadis nomor urut ke 28, diriwayatkan oleh salah seorang sahabat, Abu Najih al-Irbadh bin Sariyah yang berkata :

Suatu ketika Rasulullah memberi kami pelajaran yang membuat hati bergetar dan mata menjadi sendu, maka kami berkata kepada Rasulullah : Ya Rasulullah, seakan-akan ini adalah pertemuan terakhir, maka berilah kami wasiat. Lalu Rasulullah Saw bersabda :

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ؛ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Aku mewasiatkan kepada kalian untuk selalu bertakwa kepada Allah. Mendengar dan patuh kepada pemimpin walaupun dia adalah seorang budak. Barang siapa diantara kalian yang berumur panjang akan melihat banyak perselisihan. Maka hendaklah kalian menjaga sunnahku, dan sunnah pengganti ku yang jujur dan mengikuti petunjuk. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, hindarilah perkara-perkara yang baru, karena setiap bid’ah adalah sesat. Demikian lebih kurang terjemahan hadis ini.

Secara umum, rasulullah meminta para sahabat dan umatnya untuk selalu bertakwa kepada Allah swt. Dengan kata lain, langkah pertama menyelematkan diri dan agama di akhir zaman adalah dengan bertakwa kepada Allah swt, baik dalam arti sempit maupun pengertian yang luas. Kalaupun tdak bisa menyelamatkan banyak orang, maka yang wajib dijaga adalah diri sendiri dan keluarga.

Langkah kedua, mungkin demi menjaga ketertiban umum, rasulullah meminta kita untuk mendengar dan taat kepada pemimpin. Tentu kita sepakat bahwa pemimpin tersebut adalah pemimpin kaum muslimin, walaupun berasal dari kalangan budak. Ini untuk menjaga soliditas ummat, sehingga tidak mudah diporak-porandakan oleh kedengkian orang-orang musyrik.

Saya kira, poin yang ketiga, penekanannya adalah kepada para pemimpin kaum muslimin untuk memegang teguh sunnah rasulullah dan para penggantinya, khususnya dalam mengayomi umat dan memelihara kewibawaan agama. Karena tidak mungkin bagi masyarakat awam mengikuti dan menjaga sunnah rasul jika pemimpinnya rusak.

Para pemimpin umat ini akan menghadapi cobaan dan ujian yang berat, namun mereka harus bertahan, karena kemampuan bertahan terhadap cobaan inilah yang menjadikannya pemimpin umat.

Saya cenderung memaknai poin terakhir juga dalam konteks kepemimpinan dan dan kemasyarakatan, bukan masalah ibadah dan ajaran agama. Menurut saya, konsep kepemimpinan yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat di masa awal sudah ideal. Hari ini kita melihat kenyataan bahwa konsep-konsep kepemimpinan modern justru memecah belah umat dalam banyak partai, negara, serta berbagai kelompok dan kepentingan, sehingga sulit sekali bagi umat islam di seluruh dunia untuk bersatu dan bersepakat.

Di sebahagian wilayah, umat islam bisa hidup tenang dan beribadah, di tempat lain justru umat ilsam dibantai, dilucuti bahkan dilarang beribadah sesuai dengan keyakinannya.

Umat Islam seharusnya adalah tubuh yang satu, dan dikontrol secara politik dan hukum dalam suatu kendali yang satu juga, sebagaimana pada masa rasulullah, para sahabat, dan orang-orang terdahulu yang kita kenal sebagai khilafah islamiyah.

Umat Islam seharusnya saling membantu dan menguatkan, bukannya saling berperang dan melemahkan. Saya kira, yang dilarang oleh rasul dalam hadis ini adalah mengikuti konsep-konsep politik dan kepemimpinan yang dibuat-buat oleh orang kafir untuk menghancurkan Islam, itulah bid’ah yang sangat berbahaya, menurut saya.

Lalu bagaimana solusinya untuk bisa mengembalikan kesatuan dan persatuan umat Islam? Kembali ke hadis di atas, langkah paling awal adalah memperbaharui ketakwaan kepada Allah SWT, dan melihat Islam sebagai suatu entitas yang lebih besar dari sekedar partai, negara, maupun kelompok. Jika kepentingan umat Islam berbeda dengan kepentingan partai, negara maupun kelompok, seharusnya individu-individu yang berperan dalam partai, negara dan kelompok tersebut lebih mendahulukan kepentingan umat islam.

Ingatlah, Islam sudah dijamin keselamatannya di sisi Allah, tapi partai, negara dan kelompok belum tentu selamat di hadapan pengadilan Allah, baik di dunia apalagi di akhirat kelak.

Khusus bagi kita yang rendah kulitas iman, dan kecil perannannya di  dalam masyarakat, maka seperti hadis yang kita bahas sebelumnya, peran serta kita dalam persatuan umat Islam adalah minimal dengan menjaga lisan kita jangan sampai menyerang dan menyakiti sesama muslim, khususnya tetangga, kawan, karib kerabat dan para ulama.

Wallahua’lam.


Rabu, Juni 07, 2017

Hadis Nomor 29 dari Kitab Arbain Imam Nawawi



Alhamdulillah, wasshalatu wassalamu ala rasulillah wa ala alihi wa ashabihi wa jami’i ummatihi. Kita sudah memasuki bagian sepuluh kedua dari bulan ramadhan tahun 1438 H. Saya akui, memelihara konsistensi untuk meneruskan tulisan dan pembahasan sederhana ini tidak mudah, khususnya karena istiqamah saya yang memang masih lemah.

Kita lanjutkan ke hadis nomor 29 dalam susunan Kitab Arbain Imam Nawawi. Diriwayatkan dari sahabat nabi, Muadz bin Jabal radhiallahu anhu, beliau berkata: saya bertanya kepada Rasulullah SAW, beritahukanlah kepada ku perbuatan yang bisa menjadi jalan bagiku untuk masuk surga dan jauh dari neraka.
Lalu rasul menjawab :

لَقَدْ سَأَلْت عَنْ عَظِيمٍ، وَإِنَّهُ لَيَسِيرٌ عَلَى مَنْ يَسَّرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ: تَعْبُدُ اللَّهَ لَا تُشْرِكْ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ، وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ، وَتَصُومُ رَمَضَانَ، وَتَحُجُّ الْبَيْتَ

Kamu telah menanyakan persoalan yang penting, namun bagi orang yang dimudahkan oleh Allah, mengamalkannya akan sangat menyenangkan, yaitu: kamu menyembah Allah dan tidak menyekutukannya dengan apapun, mendirikan shalat-shalat yang wajib, membayar zakat-zakat yang wajib, berpuasa pada bulan ramadhan, dan melaksanakan ibadah haji.

Lalu Rasulullah SAW melanjutkan :

أَلَا أَدُلُّك عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ؟ الصَّوْمُ جُنَّةٌ، وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ، وَصَلَاةُ الرَّجُلِ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ

Maukah kamu kuberitahukan kunci-kunci kebaikan? Puasa adalah perisai, sedekah dapat menutupi kealahan seperti api memadamkan api, dan shalat malam.
Rasulullah membacakan ayat QS. As-Sajadah : 16-17. Kemudian beliau bersabda :

أَلَا أُخْبِرُك بِرَأْسِ الْأَمْرِ وَعَمُودِهِ وَذُرْوَةِ سَنَامِهِ؟

Maukah kamu kuberitahukan pokok agama, penyangga agama dan buah agama?

Sahabat Muadz menjawat, tentu ya Rasulullah. Rasulullah SAW melanjutkan :

رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ، وَعَمُودُهُ الصَّلَاةُ، وَذُرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ

Pokok agama adalah Islam, penyangganya adalah shalat, dan buahnya adalah jihad. Lalu beliau bersabda lagi :
أَلَا أُخْبِرُك بِمَلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟
Maukah kamu kuberitahukan kunci untuk semua urusan itu?

Sahabat Muadz kembali menjawab, tentu ya Rasulullah.

Maka Rasulullah SAW menunjuk mulut / lidah Muadz bin Jabal, lalu bersabda:

كُفَّ عَلَيْك هَذَا
Jagalah mulutmu ini.

Sahabat Muadz kembali bertanya : apakah kami akan dihukum karena apa yang kami bicarakan?

Rasulullah menjawab :

ثَكِلَتْك أُمُّك وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ عَلَى وُجُوهِهِمْ -أَوْ قَالَ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ- إلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟

Merugi kamu bila tidak mengetahuinya, bukankah kebanyakan manusia dipermalukan karena ulah mulutnya sendiri?  Demikian hadis yang panjang ini.

Pertanyaan Sahabat Nabi SAW, Muadz bin Jabal, adalah pertanyaan kita semua, karena kita semua ingin masuk syurga, dan tidak mau masuk ke neraka. Menurut Nabi, ini adalah perkara besar bagi sebagian besar orang, namun bagi orang yang Allah kasihani dan berikan kemudahan, mudah saja bagi mereka untuk melakukan amal saleh dan menghindari dosa-dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil.

Menyembah Allah tanpa menyekutukannya, menegakkan shalat wajib, membayar zakat wajib, berpuasa wajib dan naik haji, sekilas adalah amalan yang sederhana dan mudah. Tapi kenyatannya, banyak orang yang tidak mampu melaksanakannya secara konsisten, kalo tidak kita katakan benar sesuai dengan ketentuan syariatnya.
Bagi orang yang telah memperoleh kemudahan dari Allah, mengerjakan kewajiban saja rasanya belum cukup. Mereka ingin melakukan kebaikan-kebaikan yang semakin mendekatkan mereka kepada Allah. Rasulullah membuka rahasia bagaimana menambah kebaikan tersebut, yaitu dengan puasa sunat, sedekah, dan shalat malam.

Lalu Rasulullah SAW memberikan perumpamaan yang lebih sederhana, supaya orang-orang awam pada umumnya lebih mudah mengerti. Dengan kata lain, orang-orang miskin yang tidak memiliki harta untuk berzakat, bersedekah dan berhaji.

Apa itu, beragama dengan agama yang benar, Islam. Menjaga shalat lima waktu, dan menjawab panggilan jihad jika dibutuhkan.

Namun, karena kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya, Rasulullah masih membocorkan juga rahasia kebaikan bagi orang-orang yang lebih lemah lagi, yaitu menjaga mulut, bagi mereka yang tidak sanggup untuk berjihad.

Kenapa harus menjaga mulut? Hikmah menjaga mulud ini sangat banyak sesungguhnya, namun dalam hadis ini Rasulullah hanya memberikan satu contoh saja, bahwa banyak orang yang jatuh, terhina, atau dihukum karena tidak mampu mengendalikan mulutnya.

Dalam kasus yang lebih kontekstual.  Banyak orang yang tidak tahu diri, justru memperparah situasi karena mulutnya, twitnya, postingnya dan lain-lain, sehingga bukannya memberikan solusi dan penyelesaian masalah, justru memperkeruh situasi, bahkan menjelek-jelekan orang lain yang punya kemampuan untuk menyelesaikan masalah.

Saya kira, sebagai orang yang lemah iman, sebagaimana salah satu hadis yang pernah kita bahas sebelumnya, diam itu adalah emas, dengan tetap mendoakan di dalam hati, supaya kebaikan menjadi jelas, dan kebatilan bisa diselesaikan dengan cara yang penuh hikmah, amin.

Kamis, Juni 01, 2017

Hadis Nomor 30 dari Kitab Arbain Imam Nawawi



Sebagai ajaran hidup universal dan berlaku sepanjang zaman, dalam Islam ditetapkan beberapa kewajiban dan beberapa larangan. Di luar kewajiban dan larangan tersebut merupakan wilayah ijtihad yang sangat luas bagi umatnya, baik di bidang hukum, politik, ekonomi, teknologi dan lain-lain.

Jika merujuk ke hadis yang diriwayatkan dari Abi Tsa`labah Al-Khusyani, yakni sahabat Jursum bin Nasyib, maka beragama sesungguhnya sangat sederhana sekali.

Beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda :

إنَّ اللَّهَ تَعَالَى فَرَضَ فَرَائِضَ فَلَا تُضَيِّعُوهَا، وَحَدَّ حُدُودًا فَلَا تَعْتَدُوهَا، وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلَا تَنْتَهِكُوهَا، وَسَكَتَ عَنْ أَشْيَاءَ رَحْمَةً لَكُمْ غَيْرَ نِسْيَانٍ فَلَا تَبْحَثُوا عَنْهَا

Yang artinya kurang lebih :
Sesungguhnya Allah telah menetapkan beberapa kewajiban, maka janganlah kamu remehkan. Allah telah menetapkan beberapa batasan, maka janganlah kamu langgara. Allah mengharamkan beberapa hal, maka janganlah mendekatinya. Allah mendiamkan beberapa hal sebagai rahmat bagi kalian, bukan karena lupa, maka janganlah membahasnya.

Kewajiban-kewajiban seperti shalat, zakat, puasa dan lainnya harus dilaksanakan oleh semua orang Islam yang mukallaf. Mukallaf maksudnya, sehat jiwanya, dan sudah dianggap sebagai manusia dewasa, disebut juga balig, bukan lagi anak-anak.

Untuk hudud, atau serangkaian aturan hukum yang telah ditetapkan Allah, tidak berlaku ijtihad di dalamnya. Semuanya mesti dilakukan dan dilaksanakan secara presisi, sesuai ketentuan Allah yang termaktub dalam Alquran dan hadis Nabi Saw.

Perkara yang haram harus dijauhi oleh orang beriman, baik masih kanak-kanak maupun sudah dewasa. Dalam hal ini peran orang dewasa dalam menjaga keluarganya, dan peran pemerintah dalam menjaga masyarakatnya dari perkara yang haram sangat penting. Dari sinilah kita melihat urgensi politik bagi umat islam, guna melindungi umat dari perkara-perkara yang haram.

Salah satu institusi politik adalah pengadilan, yang berwenang untuk menjalankan hudud. Artinya hudud tidak mungkin dilakukan tanpa kapasitas politik yang memadai.

Terkait poin yang terakhir, perlu sedikit diskusi, mengingat di dalam Alquran ada pernyataan yang senada, yaitu selain yang halal dan yang haram adalah mutasyabihat, apakah yang dimaksudkan dalam hadis ini juga mutasyabihat?

Menurut hemat saya, baik ayat maupun hadis ini saling melengkapi. Perkara-perkara yang sudah dijelaskan adalah 1) kewajiban, 2) hudud, 3) larangan. Semua hal yang tidak masuk kedalam tiga hal di atas masuk dalam kategori halal, menurut saya. Ini yang mungkin maksudnya tidak perlu di bahas.

Namun dalam kehidupan, manusia memiliki akal dan naluri untuk menilai mana yang baik dan yang buruk, yang belum ada penjelasan rincinya di dalam Alquran dan hadis. Hal-hal yang secara mudah dapat dikenali sebagai yang baik, maka masuk dalam kategori halal/mubah. Akan tetapi, hal-hal lainnya yang tidak bisa dinalar dengan mudah oleh orang awam dan perlu penelitian oleh orang-orang yang kompeten di bidangnya, masuk dalam kategori mutasyabihat.

Nah, lalu yang tidak perlu dibahas yang mana?menurut saya, maksud hadis ini antara lain sebagai berikut :
Yang pertama, tidak mempertanyakan kenapa Allah tidak mengaturnya, karena ini semua adalah hak Allah.
Yang kedua, mungkin yang dimaksud adalah perkara-perkara yang sudah jelas kedudukan halalnya, tidak perlu lagi dibahas lebih lanjut, karena masih banyak hal lain yang perlu mendapat perhatian.
Yang ketiga, tidak menjadikan hal-hal sepele sebagai sesuatu yang dibincangkan dan dibahas berlarut-larut, sehingga memakan waktu, emosi, dan bisa menyebabkan perpecahan umat.
Yang keempat, di luar ketentuan fardhu, hudud dan haram, adalah lingkup ijitihad yang boleh saja antara satu orang dengan lainnya berbeda pandangan, tidak perlu sampai diributkan, karena Allah tidak melupakan, justru keluasan dan perbedaan tersebut dimaksudkan sebagai rahmat bagi hamba-hamba-Nya.
Kelima, hanya Allah dan rasul-Nya saja yang mengetahui, wallahu a`lam.